Soekarno muda enggan tunduk pada penjajah. Dia menggenggam tangan pribumi dan mengajaknya untuk melawan segala bentuk penindasan. Gelora antikolonialisme ini ditegaskan dalam patung Monumen Semangat Soekarno karya seniman asal Kota Mojokerto Putut Nugroho.
YULIANTO ADI NUGROHO, Kota Mojokerto, Jawa Pos Radar Mojokerto
Tatapan matanya mantap ke depan. Dengan kepala sedikit mendongak dan tangan mengepal, Soekarno berdiri gagah. Seorang pribumi berpakaian sederhana berada di belakangnya. Seolah mengajak berjalan maju, digandengnya tangan pribumi itu. Dua figur yang diejawantahkan Putut Nugroho dalam sebuah patung berbahan semen dan pasir ini menggambarkan perjuangan melawan kolonialisme.
Mockup atau model miniatur patung ini berhasil menyabet juara ketiga Sayembara Desain Patung Bung Karno yang digelar Pemkot Surabaya 10 November lalu. Bukan hanya soal simbol semangat Soekarno muda, singkatnya waktu pembuatan juga membuat karya Putut yang satu ini kian spesial.
Putut mengaku, dirinya tak menyangka akan menjadi salah satu pemenang sayembara. Pasalnya, mockup patung yang kini disimpan di Balai Kota Pemkot Surabaya itu dikerjakan hanya dalam lima hari. ”Sangat di luar ekspektasi. Bisa masuk sepuluh besar saja sudah bagus,” tuturnya ditemui di kediamannya di Lingkungan/Kelurahan Miji 4, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, kemarin (13/11).
Hal pertama yang membuatnya tak berharap banyak yakni minimnya waktu pengerjaan patung. Mockup setinggi satu meter itu dibuat dari bahan campuran pasir dan semen. Memang, konsep patung Soekarno itu sudah disiapkannya jauh-jauh hari, bahkan sketsanya sudah jadi sejak 18 Oktober, namun tidak dengan mockup. ”Saya baru tahu seminggu terakhir itu ternyata harus ada mockup, saya kira hanya sketsa,” beber pembuat patung Soekarno kecil di SDN Purwotengah dan SMPN 2 Kota Mojokerto tersebut.
Di samping minimnya waktu pengerjaan, alasan lain yang bikin Putut ’’minder” yakni nama-nama besar senimal nasional dalam kontes sayembara memperingati Hari Pahlawan itu. Sebut saja Suhartono H, seniman spesialis pematung Soekarno asal Jakarta dan Rommy Iskandar, seniman asal Yogyakarta yang dikenal dengan spesialis pematung rohani. Dua karya nama tersebut masing-masing meraih juara I dan II.
Putut menyebut, dua patung juara itu dibuat dalam waktu yang lebih panjang dibanding karyanya. ”Waktu pengumunan kan bertemu pemenang satu dan dua. Pemenang pertama itu dikerjakan dua bulan, yang kedua satu setengah bulan. Lha, yang ketiga cuma lima hari,” ulasnya disambung gelak tawa.
Pria 61 tahun ini menyatakan, patung bernama Monumen Semangat Soekarno itu dibuat sedetail mungkin. Perwujudan sosok Soekarno muda dengan pakaian priyayi Jawa menggambarkan status sosial sebagai keturunan keluarga terpandang. Keberadaan tas sekolah yang tergantung di pundak kanannya menunjukkan masa muda Soekarno yang menempuh pendidikan di Surabaya.
Tatapan tegas Soekarno menjadi simbol visi dan cita-citanya dalam menentang kekuasaan kolonial. Demikian dengan tas sekolah yang mengisyaratkan kesiapannya dalam menempuh pendikan. ”Soekarno sangat menyadari untuk mencapai tujuan misalnya membuat negara, tidak mungkin secara mandiri. Jadi harus gotong royong,” beber seniman yang karyanya telah dipajang di berbagai penjuru dunia ini.
Olehnya, dalam patung tersebut, Soekarno menggandeng sosok pribumi untuk diajak maju. Baik maju dalam mengenyam pendidikan maupun melawan penjajahan. ”Saya menggambarkan keinginan Soekarno agar pribumi mendapatkan pendidikan yang sama. Karena saat itu, akses pribumi mendapat pendidikan sangat terbatas,” jelas spesialis pembuat cinderamata patung Majapahitan Pemprov Jatim tersebut. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah