Tekad kuat menjadi salah satu kunci utama berwirausaha. Seperti diyakini Abdul Latif, produsen sepatu kulit yang sukses memasarkan produknya hingga mancanegara.
INDAH OCEANANDA, Sooko, Jawa Pos Radar Mojokerto
BERBEKAL keahlian yang dimilikinya, pria akrab disapa Latif ini mencoba lahan usaha sebagai pembuat sepatu kulit. Latif mengaku dia memutuskan berwirausaha karena ingin punya waktu banyak dengan keluarga. Usaha produksi sepatu kulit itu dirintisnya sejak 2013 silam.
’’Pas masih bujangan dulu, saya masih kerja sebagai karyawan di pabrik sepatu juga. Sempat di daerah Modongan, terus pindah ke pabrik sepatu Surabaya. Karena nikah, saya putuskan coba buka usaha sepatu sendiri,’’ katanya mengawali percakapan.
Berlokasi di Perumahan Puskopad, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, rumahnya dijadikan tempat produksi sepatu kulit. Jenis sepatu yang diproduksi awalnya sepatu kulit model standar. Ia dibantu istri dan tetangganya untuk mulai memasarkan sepatu buatannya. ’’Pemasaran hanya dari mulut ke mulut, sampai akhirnya mulai banjir pesanan itu tahun 2018,’’ papar bapak dua anak ini.
Latif menuturkan, untuk bahan baku produknya, ia memanfaatkan limbah kulit sepatu merek ekspor asal pabrik Semarang dan Surabaya. Karena masih bagus, sehingga bahan baku tersebut menjadi bernilai saat diolah lagi. ’’Saya kan punya kenalan yang kerja di pabrik itu. Jadi, kalau ada sisa limbah berapa ya itu yang dikirimkan dan dipakai,’’ tuturnya.
Dia menambahkan, modal awal yang digunakannya untuk membuka usaha, bermula dari uang pesangon saat ia masih bekerja di pabrik. Perlahan, brand sepatu Draxvil itu mulai melambung di pasaran lokal. Terbukti, pemesanan produk buatan Latif dilirik sejumlah pedagang grosir antardaerah. Mulai dari Jakarta, Sulawesi dan Kalimantan.
Sehingga, ia pun memutuskan mulai mengubah sistem pemasaran produknya agar lebih banyak menjangkau pembeli. ’’Mulai tahun 2019 saya pakai e-commerce untuk pemasaran produk. Sampai sekarang jalan terus, dan sudah dibeli pelanggan dari seluruh Indonesia. Alhamdulillah, tahun ini juga sudah dapat pelanggan dari Malaysia,’’ imbuhnya.
Pria 43 tahun ini mengungkapkan, yang membuat berbeda sepatu produknya dengan merek lain yakni dari tekstur jahitan. Latif mengaku, proses penjahitannya memiliki pola berbeda dengan sepatu pabrik lainnya. Bahkan, meski kini ia sudah mempekerjakan 30 karyawan, proses penjahitan juga tetap dilakoninya sendiri. ’’Sebab, takutnya kalau dijahitkan orang lain beda kualitasnya. Jadi, saya tetap ngerjakan sendiri, khusus di bagian jahit sepatunya,’’ ulas dia.
Dengan mempertahankan kualitas tersebut, dalam sehari Latif bisa menjual sekitar 150 pasang sepatu kulit. Adapun, kini ia sudah memproduksi sepuluh jenis sepatu kulit model biasa dan safety. Harga sepatu buatannya dipasarkan seharga Rp 100-250 ribu per pasang. Latif menyebut bisa meraup omzet sekitar Rp 50 juta per bulannya. ’’Biasanya awal tahun itu ramai pemesannya, sehari bisa jual 400 pasang. Jadi terpaksa minta bantuan tetangga juga buat ngerjain. Hitung-hitung bisa buat bantu mereka,’’ tutupnya.
Editor : Fendy Hermansyah