Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Achmad Sodiq, Polisi yang Melestarikan Burung Langka

Fendy Hermansyah • Senin, 26 September 2022 | 20:46 WIB
BERKEMBANG BIAK: Achmad Sodiq menunjukkan burung kakaktua yang ditangkarkan di rumahnya di Desa Pandanarum, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. (Yulianto Adi Nugroho/Jawa Pos Radar Mojokerto)
BERKEMBANG BIAK: Achmad Sodiq menunjukkan burung kakaktua yang ditangkarkan di rumahnya di Desa Pandanarum, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. (Yulianto Adi Nugroho/Jawa Pos Radar Mojokerto)
Tangkarkan Burung Liar yang Dijual di Medsos lalu Dilepas ke Alam Bebas

Achmad Sodiq, 42, membeli burung-burung langka yang dijual secara bebas di media sosial (medsos) untuk dikembangbiakkan. Ketika tiba waktunya, burung-burung yang dirawat di pekarangan rumah itu dilepaskan ke alam bebas. Upaya pelestarian ini dilakukannya di samping menjalankan tugasnya sebagai anggota Polri.

YULIANTO ADI NUGROHO, Pacet, Jawa Pos Radar Mojokerto

DI pekarangan dan garasi rumah itulah, beragam jenis burung langka berada. Seperti kakak tua jambul kuning, bebet Jawa, jalak putih, serta ayam hutan hijau. Jenis-jenis burung dilindungi itu ditangkarkan oleh Bripka Achmad Sodiq. Sudah bertahun-tahun polisi asal Desa Pandanarum, Kecamatan Pacet ini menyulap kediamannya menjadi tempat pelestarian burung langka.

”Penangkarannya sudah berjalan kurang lebih 2,5 tahun. Niatnya supaya alam tetap lestari,” ungkap pria yang berdinas di Polsek Pacet tersebut. Di sela tugasnya sehari-hari sebagai anggota Polri, Sodiq merawat burung-burung langka dengan telaten. Setiap hari, unggas-unggas itu diberi makan menggunakan jagung dan kacang-kacangan. Beberapa di antaranya dikandangkan dan lainnya dibiarkan terbang bebas mencari makan di sekitar rumahnya.

Karena sudah bertahun-tahun, sejumlah jenis burung telah berkembang biak. Seperti burung kakaktua yang kini jumlah totalnya mencapai sembilan ekor. Selain itu, terdapat pula jenis burung betet Jawa dan jalak putih yang kini telah hidup bebas di alam liar. Sodiq mengungkapkan, dirinya membuat penangkaran burung liar supaya tidak punah.

Bersama Komunitas Burung Free Fly (KBFF) yang bergerak dalam bidang pelestarian satwa liar dan satwa lokal, dia membeli burung-burung langka yang diperjualbelikan secara bebas. Baik oleh warga maupun secara online di medsos. Dari sanalah, burung-burung itu didapat lalu dilestarikan di kediamannya tersebut.

Saat ini, di pekarangan sederhana itu setidaknya sudah ada ratusan ekor burung yang ditangkarkan. Termasuk burung betet Jawa, nuri Sulawesi, perkici, nuri dola, jalak Bali, glatik Jawa, dan jalak kebo. Dirinya pun menyatakan bakal melepas burung-burung itu ke alam bebas apabila dinilai sudah layak. ”Kita prihatin dengan alam yang semakin rusan dan burung terancam punah dari habitatnya,” ulas pria yang akrab disapa Man Odix ini.

Selain burung langka, dirinya juga menangkarkan burung-burung lokal yang kerap menjadi buruan. Seperti prenjak tamu dan ciblek yang banyak ditangkap dan dijual dengan harga lumayan tinggi karena kemerduan kicaunya. Sodiq berharap, penangkaran sederhana miliknya ini dapat membantu dalam upaya pelestarian burung-burung langka. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah
#polisi penangkar burung #burung langka #boks jprm