Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengintip Pembelajaran SDN Jembul di Lereng Gunung Anjasmoro

Fendy Hermansyah • Kamis, 28 Juli 2022 | 15:54 WIB
TERPENCIL: Siswa SDN Jembul menjalani proses pembelajaran di ruang kelas minimalis, kemarin.
TERPENCIL: Siswa SDN Jembul menjalani proses pembelajaran di ruang kelas minimalis, kemarin.
Siswa Baru hanya Empat Anak, Satu Sekolah Rasa Satu Rombel

Fenomena kekurangan siswa masih dihadapi oleh sejumlah lembaga satuan pendidikan di Kabupaten. Seperti di SD Negeri Jembul, Kecamatan Jatirejo. Tahun ini, sekolah terletak di paling selatan Mojokerto itu hanya mendapat empat siswa baru.

INDAH OCEANANDA, JATIREJO, Jawa Pos Radar Mojokerto

SEKITAR sepuluh anak berseragam TK dan batik bermain di sekitar anak tangga. Tangga tersebut merupakan akses satu-satunya menuju gedung SDN Jembul yang memang didirikan di atas bukit.

Mereka adalah siswa kelas I-VI. Gedung sekolah yang terletak di kaki Gunung Anjasmoro ini hanya memiliki lima ruang kelas dan satu ruang kantor guru. Kelas V dan VI dalam satu ruangan. ’’Totalnya siswa tahun ini ada 33 orang. Yang kelas I, hanya ada empat anak,’’ ujar guru kelas VI SDN Jembul Jali Abidin, kemarin.

Mengabdi sejak tahun 1995 silam, pria akrab disapa Jali ini mengaku kondisi minim siswa di sekolah ini sudah terjadi bertahun-tahun. Tahun ini, bisa dibilang jumlah siswanya normal. Karena berada di kisaran 30 anak. ’’Pernah sekitar tahun 2004, jumlah semua siswa hanya 23,’’ ungkapnya.

SDN Jembul diketahui sudah berdiri sejak tahun 1981.
Jali menuturkan, untuk mengisi pagu siswa tahun ini, dia bahkan memasukkan anaknya sendiri ke SDN Jembul. Hal ini untuk menambah kekosongan kursi di SD tersebut. ’’Pagunya 17. Tapi, tidak mungkin ngisi segitu. Untuk tambah pagu, anak saya yang paling kecil saya masukkan di sekolah ini,’’ papar dia.

Jali sendiri berdomisili di Desa Lebakjabung, yang jaraknya kurang lebih 12 kilometer dari SDN Jembul. Setiap tahunnya, siswa SDN Jembul sendiri mayoritas merupakan warga Desa Jembul. Hanya sekitar tiga anak yang merupakan warga pindahan dari kecamatan lain. ’’Ada yang pindahan, ada yang ikut neneknya. Makanya sekolah disini. Kami terima siswa model apapun,’’ ucapnya.

Lebih lanjut, Jali menerangkan karena jumlah siswa yang minim ini, ukuran ruang kelas yang digunakan tentu berbeda dengan sekolah biasanya. Satu ruangan dibagi menjadi dua kelas. ’’Yang kelas VI ini masih ada sekatnya, karena dibagi dengan kelas V,’’ bebernya.

Jali mengaku, dengan keterbatasan ruang kelas, pihaknya bahkan terpaksa menggelar kegiatan istighosah di ruang kelas masing-masing. Sebab, mereka tidak memiliki musala. Termasuk untuk pelaksanaan asesmen nasional berbasis komputer (ANBK), siswanya terpaksa menumpang di SMPN 1 Jatirejo karena terkendala fasilitas laboratorium komputer. ’’Kalau ke SMP Jatirejo kan jauh, ya akhirnya mereka saya antar pakai mobil saya. Bagaimana pun caranya, agar mereka bisa dapat fasilitas sama dengan sekolah lain,’’ papar dia.

Hari Purwati, guru kelas I SDN Jembul menuturkan, setiap tahun sekolahnya memang hanya menerima segelintir siswa baru. Bahkan, dia bersyukur tahun ini ada kenaikan jumlah siswa dibandingkan tahun lalu. ’’Kalau tahun lalu cuma tiga orang. Tahun ini empat,’’ ulasnya.

Hari menyebut, minimnya jumlah siswa baru bukan lagi hal yang asing baginya. Justru, dengan jumlah siswa minim ini, pihaknya bisa memberikan perhatian lebih konsentrasi terhadap perkembangan belajar masing-masing siswanya. ’’Yang penting ngajar-nya dengan ikhlas, pasti hasilnya juga bagus,’’ katanya.

Untuk diketahui, aturan jumlah siswa dalam satu rombel tingkat SD di Kabupaten Mojokerto sebanyak 32 siswa. Sedangkan, di SDN Jembul, total siswanya hanya 33 anak. Sehingga, dalam satu sekolah praktis hanya satu rombel saja.

Kasi Kurikulum Pendidikan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Mahfud Affandi tak memungkiri masih banyak SD di kabupaten yang belum bisa memenuhi pagu. ’’Sesuai aturan, memang harusnya satu rombel 32 siswa. Tapi, kalau yang sekolah pinggiran, kita maklum. Karena kondisi lingkungan, juga pilihan siswa sekarang lebih banyak yang ke madrasah,’’ tandasnya. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #sekolah pinggiran #Sekolah Soekarno Kecil #kota onde-onde #citayam fashion week #Mojopahit #citayam #trawas #pacet #sekolah ongko loro #masa kecil soekarno #Soekarno di Mojokerto #wisata mojokerto #Kota Mojokerto #mojokerto #sdn jembul 1 #trowulan #onde-onde