Di antara 767 ratusan calon jamaah haji (CJH) kabupaten yang terdaftar berangkat tahun ini, ada dua gadis belia yang dinyatakan sebagai CJH termuda. Bagaimana perasaan serta persiapan mereka dalam menunaikan ibadah haji tahun ini?
INDAH OCEANANDA, Mojoanyar, Jawa Pos Radar Mojokerto
RAUT bahagia sekaligus tersipu malu terpancar di wajah Ema Dwi Ariski dan Siti Asmaul Nisfiyha. Keduanya mengikuti bimbingan manasik haji di kantor PPIH Kemenag Kabupaten, Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, awal pekan lalu. Didampingi keluarga masing-masing, keduanya serius menyimak materi yang disampaikan petugas Kemenag Kabupaten.
’’Iya, agak bingung. Tapi, saya tanya ke ibu kalau bingung, juga sudah dibekali buku sama tante tentang haji, jadi bisa dibuat belajar,’’ ujar gadis 19 tahun asal Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.
Begitu pula dengan Nisfhi, panggilan akrab Siti Asmaul Nisfiyha. Dia menuturkan, dirinya pertama kali mengikuti bimbingan manasik haji. Ditemani kakak kandungnya, ia mengaku sudah mempelajari doa-doa serta bacaan yang akan dilantunkan saat menunaikan rukun Islam kelima itu. ’’Sama mas saya yang pertama, agak bingung memang. Tapi, Insya Allah sudah hafal bacaannya karena sudah pernah diajarkan di pondok,’’ beber remaja asal Desa Simbaringin, Kecamatan Kutorejo ini.
Keduanya merupakan CJH termuda yang berkesempatan berangkat tahun ini. Mereka masih menginjak usia 19 tahun. Ema dan Nisfhi mendapatkan tiket keberangkatan haji dikarenakan pelimpahan porsi dari orang tua mereka yang harusnya naik haji 2020 lalu. ’’Kalau saya karena bapak meninggal tahun kemarin, akhirnya porsi itu dilimpahkan ke saya. Saya jadi menemani ibu berangkat, kakak saya nggak mau karena katanya belum siap,’’ tutur Ema.
Setali tiga uang. Nisfhi juga berkesempatan berangkat pasca mendapatkan pelimpahan porsi dari sang ibu. Ia berangkat bersama kakak kandung pertamanya yang juga mendapatkan porsi pelimpahan dari sang ayah. Kedua orang tuanya meninggal akibat sakit. ’’Kakak kedua saya ditawarin tapi nggak mau, istrinya kakak juga nggak siap. Akhirnya saya yang mendapatkan pelimpahan porsi dari ibu. Bapak meninggal Juni 2021, kalau ibu meninggal Januari lalu,’’ papar gadis yang mondok di Ponpes Al-Mas’udy, Kecamatan Kutorejo ini.
Saat ditanya tentang motivasi berangkat ke tanah suci, keduanya memiliki alasan berbeda. Ema misalnya, mahasiswa Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto ini menyatakan awalnya ia terpaksa ikut haji akibat terkena pelimpahan porsi dari sang ayah. Namun, setelah dibujuk petugas Kemenag, akhirnya ia mau ikut haji. ’’Saya juga mau menemani ibu, kasihan sendiri. Setelah ikut haji ini, saya juga nggak mau dipanggil hajjah. Cukup dipanggil mbak saja,’’ ucapnya sembari tersenyum.
Untuk sementara, lanjut Ema, ia terpaksa cuti selama satu bulan lebih . Atau tepatnya 50 hari karena mengikuti ibadah haji. Itu sudah disetujui oleh pihak kampusnya.
Lain lagi dengan Nisfhi. Ia mengaku, motivasi dirinya mengikuti ibadah haji tahun ini karena ingin mendoakan kedua orang tuanya yang sudah tiada. ’’Ya sebenarnya gugup juga mau berangkat. Saya niat mendoakan orang tua saya nanti, karena berkat mereka juga saya bisa ke tanah suci,’’ tutupnya. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah