Ada kompleks kerajaan masa lampau di Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg. Serpihan benda-benda diduga bersejarah berserakan di pekarangan warga hingga kuburan. Satu lokasi yang hampir setengah abad telah diakui sebagai cagar budaya adalah situs Candi Sumur Gantung.
YULIANTO ADI NUGROHO, Gedeg, Jawa Pos Radar Mojokerto
’’Mentok, belok kiri. Nanti ada masjid, kiri lagi. Nah, pas di belakang masjid itu.” Begitu jawab pemilik toko kelontong di Desa Berat Wetan ketika Jawa Pos Radar Mojokerto bertanya cara menuju Candi Sumur Gantung.
Sepanjang perjalanan dari jalan arah Desa Gembongan itu, terlintasi fasilitas umum sekolah dan balai desa. Perkampungan padat penduduk serta sebuah masjid megah berkubah warna hijau. Masjid itu mudah terlihat karena ketinggiannya. Dan dari letaknya, memang cocok jadi patokan arah. Termasuk menuju Candi Sumur Gantung.
Situs berupa tatanan batu bata yang menggunung tersebut, langsung terlihat seketika memasuki jalan paving selepas masjid. Posisinya pun tak meleset dari petunjuk awal. Sumur Gantung ada di tengah-tengah kampung. Sisi barat dan seberang jalan berupa rumah-rumah. Timurnya terdapat masjid dan di sisi utara, rimbun bambu-bambu.
Sekilas, pelataran situs menyerupai taman. Rumput layaknya lapangan sepak bola serta tanaman yang dibentuk jadi pagar hidup. Beberapa pohon perindang tinggi menjulang menambah keteduhan. Ada papan peringatan berbahan besi yang dipenuhi karat mengisyaratkan, area situs yang terletak di desa di Kecamatan Gedeg ini berada di bawah naungan BPCB Jatim.
Di area inti candi, tumpukan batu bata merah tampak berlumut. Separo sisi depan sudah berantakan. Batu bata tak tertata. Ada yang utuh, lebih banyak yang patah. Pemandangan itu sedikit berbeda jika dilihat dari sudut pandang bagian belakang candi. Di tengah-tengahnya, tanpak ada semacam lubang. Namun, jika dari bagian belakang, masih terlihat struktur tatanan.
Perawatan situs dipercayakan kepada Sukanan. Seorang dalang wayang kulit sekaligus yang diberi mandat sebagai Juru Pelihara Candi Sumur Gantung. ”1990, saya diangkat juru pelihara di sini,” ungkap Sukanan mengawali pembicaraan, kemarin (21/3) siang. Rumah pria 53 tahun tersebut berada tepat di samping candi.
Terhitung sejak BPCB menyatakan Candi Sumur Gantung sebagai cagar budaya yang perlu dilestarikan, dia diangkat menjadi ’’juru kunci”. Menurutnya, area candi saat ini memiliki luas 17x14 meter dengan tinggi sekitar 3 meter. Tatanan candi tak pernah mengalami perubahan. Hanya saya, tumpukan batu bata itu mengalami longsor secara perlahan. Dia menyebut, perkiraan BPCB, ukuran asli candi diperkirakan berukuran 6x6 meter.
Jauh sebelum BPCB datang, warga telah menamakan area tersebut sebagai Candi Sumur Gantung. Menurut cerita dari sesepuh Sukanan, area candi dulunya dipenuhi dengan pohon-pohon berukuran besar. Seperti pohon asem, pohon kepuh, pohon serut, dan pohon kemiri.
Pohon itu berdiri di antara tatanan batu bata. Dan, pohon-pohon itu terakhir berdiri tahun 80-90an. ”Sebelum BPCB tahu (menemukan situs), pohon itu sudah dipotong oleh bapak saya,” ucapnya.
Sukanan menceritakan, berdasarkan cerita yang berkembang di tengah masyarakat, Candi Sumur Gantung merupakan candi persembahan. Kisahnya, di kawasan yang di antaranya menjadi Desa Berat Wetan pernah berdiri sebuah kerajaan bernama Bulu Ketigo. Sang putri kerajaan yang hendak dipersunting pejabat dari kerajaan Majapahit memberi syarat. Yakni, minta dibangunkan sebuah candi dengan sumur di bagian tengah. ”Dan paling penting permukaan air yang di dalam candi itu lebih tinggi dari sungai,” terangnya.
Kisah itu banyak dituturkan secara turun temurun oleh masyarakat sepuh. Oleh kecerdikan pejabat Majapahit, candi itu dikelilingi dengan pohon-pohon besar supaya bisa menarik sumber air ke dalam candi.
Beberapa upaya pembuktian dan penalaran kisah, pernah dilakukan. Misalnya, pengungkapan fakta sisi utara candi yang dulu memanjang aliran sungai besar. Jaraknya sekitar 50 meter dari candi. Bekas sungai itu pernah dibuktikan dengan penggalian tanah yang menghasilkan pasir dan sempat ditambang warga.
Sukanan menyebut, pada 1995, terdapat pula kegiatan pengukuran ketinggian laut di lokasi tersebut. Saat kegiatan itu, BPCB membawa peta zaman belanda. Di sana, tersebutkan sisi utara Desa Berat Wetan yang kini berbatasan dengan Desa Japanan, terdapat sebuah perkampungan bernama Desa Bulu Ketigo. ”Nah, ke mana kampung itu sekarang?” katanya.
Selain itu, penalaran terhadap hubungan pohon dan sungai juga diinterpretasikan sebagai cara untuk menarik sumber air. Sumur terisi air dari resapan di akar-akar pohon. ”Itu kiasan bahasa yang saya kelola supaya bisa diterima kalangan perlajar,” terangnya sembari menyebut jika candi kerap menjadi jujukan para pelajar sekitar saat belajar sejarah.
Dari keyakinan lain yang berkembang, lanjut Sukanan, Sumur Gantung merupakan pintu masuk menuju kerajaan. Pusat kerajaan Bulu Kerto diyakini berada di Dusun Bulu, Desa Mojosarirejo, Kecamatan Kemlagi yang berjarak sekitar 5 kilometer. Di luar beragam versi tersebut, bukti otentik seperti jenis batu bata merupakan ciri khas peninggalan era Majapahit.
Tak hanya situs ini. Kuat dugaan Desa Berat Wetan merupakan bagian dari komplek sebuah kerajaan. Disebutnya, beberapa akreolog dari berbagai daerah yang melakukan penelitian sempat menemukan benda-benda bernilai cagar budaya di pekarangan warga. Misalnya, puing-puing batu. Demikian pula dengan patung-patung dewa yang terletak di area makam setempat. ”Waktu itu ditemukan keramik dan pecahan-pecahan dari lintas abad dan macam-macam era kerajaan. Ada di kampung dan di dalam makam,” beber pria yang juga bekerja sebagai penjual kambing tersebut. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah