- Babak Penyisihan Lomba Azan JPRM
- Bakal Digelar Rutin Setiap Tahun
MOJOKERTO RAYA - Seratus pelajar SD dan MI dari Kota dan Kabupaten Mojokerto tampil dalam Lomba Azan yang digelar Jawa Pos Radar Mojokerto dalam rangka HUT ke-25, kemarin (28/2). Penampilan para muazin cilik se-Mojokerto Raya ini mampu memukau dewan juri. Sebanyak 20 peserta terbaik telah terpilih untuk maju dalam babak grand final di Sunrise Mall, Senin (2/3).
Direktur Jawa Pos Radar Mojokerto M. Nur Kholis menyampaikan, azan memiliki makna luar biasa sebagai panggilan penanda waktu salat. Tak jarang, azan dilantunkan dengan nada indah dan merdu. Sebagai bentuk dukungan dalam melahirkan para muazin masa depan, pihaknya berkomitmen untuk konsisten menggelar lomba serupa. ’’Kami berkomitmen menggelarnya setiap tahun,’’ katanya saat membuka acara, kemarin (28/2).
Mewakili penyelenggara, NK, panggilannya, mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta berikut pendamping serta dewan juri. Terlebih, perlombaan yang diikuti seratus peserta ini berlangsung dalam waktu panjang sejak pagi sampai sore sehingga. ’’Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi seluruh peserta, dewan juri, dan panitia dalam menyelenggarakan Lomba Azan yang ritmenya panjang karena diikuti banyak peserta,’’ imbuhnya.
Perwakilan dewan juri Lomba Azan, Nur Kholis, mengatakan, seluruh peserta tampil bagus dan menunjukkan performa maksimal. Meski masih belia, mereka mampu membawakan kumandang azan secara merdu dengan gaya irama yang bervariasi. ’’Kebanyakan yang dibawakan irama Bayati dan Rost,’’ tuturnya seusai perlombaan di aula Jawa Pos Radar Mojokerto, Jalan RA Basuni, Desa Jampirogo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, kemarin (28/2).
Juri dari Kemenag Kabupaten Mojokerto itu mengungkapkan, beragamnya langgam azan yang dikumandangkan menunjukkan kekayaan referensi para peserta. Mereka bisa melantunkan model azan khas logat Nusantara hingga gaya Mekkah.
Nur Kholis pun berharap, keberadaan para muazin cilik ini bisa mewarnai lingkungan sekitarnya. Mereka pun diharapkan bisa menjadi generasi menerus yang akan memakmurkan masjid. ’’Kalau anak-anak yang ikut lomba ini tadi azan di lingkungannya masing-masing, syiar Islam akan semakin terlihat,’’ ujarnya.
Mahfud Diarto, juri lain dari Kemenag Kabupaten Mojokerto mengapresiasi antusiasme para peserta dan pendamping dalam perlombaan kemarin. Menurutnya, kegiatan ini penting untuk memotivasi anak-anak menjadi muazin sekaligus ajang regenerasi.
’’Karena di tengah masyarakat juga jarang sekali anak-anak yang sudah dimotivasi terkait dengan muazin, di musala atau masjid rata-rata orang yang sudah tua. Adanya lomba seperti ini sangat bagus untuk regenerasi muazin,’’ katanya.
Selama penampilan, para peserta juga tak terlihat grogi. Hal itu, kata Mahfud, menunjukkan kekuatan mental yang telah tertanam kuat dalam diri anak-anak. Mereka dengan percaya diri melantunkan kumandang pemanggil salat dengan nada Qori, Rost, Nahawand, dan Bayati.
Dalam menilai penampilan para peserta, dewan juri menggunakan sejumlah parameter seperti tajwid, irama, fashahah, dan adab. Berbagai instrumen itu dilihat pula dari kekuatan power suara dan cengkok hingga kemampuan olah vokal peserta. ’’Kita mencari bagaimana olah vokal anak sudah terbentuk, karena kadang dari awal bagus, di tengah-tengah fales,’’ tandas Mahfud.
Sementara itu, perwakilan juri dari Jawa Pos Radar Mojokerto, Ahmad Basuni menyatakan, penampilan seluruh peserta menunjukan semangat yang tinggi. Meskipun tengah menjalankan ibadah puasa, mereka fokus dalam melantunkan azan. ’’Seluruh peserta tampil dengan baik, itu menunjukkan generasi muda yang berkarakter,’’ kata dia.
Dewan juri telah menentukan 20 peserta terbaik berdasarkan nilai tertinggi (lihat grafis). Mereka akan tampil dalam babak grand final yang digelar di Sunrise Mall, Kota Mojokerto, pada Senin (2/3). Lain dengan babak penyisihan, setiap peserta nantinya akan tampil dengan mengumandangkan azan disertai ikamah. Dari 20 peserta itu nanti diambil juara 1 sampai 3 dan harapan 1 sampai 3. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah