Konsumen Terpaksa Kurangi Jatah Pembelian
MOJOKERTO - Harga cabai rawit di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto terus mengalami kenaikan. Pada Rabu (2/9), harga komoditas yang menjadi bumbu dasar bercita rasa pedas tersebut telah menembus harga Rp 70 ribu per kilogram (kg).
Kenaikan harga cabai rawit ini mulai dirasakan pedagang sejak sehari sebelumnya. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, harga cabai tersebut terus merangkak naik akibat pasokan yang semakin berkurang.
Mela, salah seorang pedagang di Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto mengatakan kenaikan harga terjadi hampir setiap hari. ’’Di beberapa minggu terakhir ini harga cabai merangkak naik setiap hari. Hari ini mencapai Rp 70 ribu per kilogram padahal beberapa hari lalu masih Rp 50 ribu per kilogram,’’ sebut dia.
Pihaknya menyebutkan, kenaikan harga cabai itu disebabkan pasokan yang berkurang. Pada saat puncak musim kemarau ini sangat sedikit petani yang menanam cabai. ’’Tak seperti biasanya, cabai yang datang di Pasar Tanjung ini juga kiriman dari luar daerah,’’ tutur Mela.
Tingginya harga cabai rawit membuat konsumen harus mengurangi jumlah pembelian. Salah satunya Nurul, pengunjung Pasar Tanjung Anyar, yang terlihat hanya membeli cabai senilai Rp 5 ribu. Dengan uang tersebut, ia hanya mendapatkan cabai dalam jumlah sedikit.
Nurul mengaku memilih mengurangi pembelian karena harus berhemat. Menurutnya, harga sejumlah kebutuhan lainnya juga masih tinggi, sementara pendapatan tidak mengalami peningkatan. ’’Ya, berhemat saja. Harga kebutuhan lain juga masih tinggi, sedangkan pendapatan tidak bertambah,’’ keluh Nurul.
Terpisah, Towil Umurona, salah seorang petani cabai di sentra cabai Desa Suru, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto membenarkan atas kondisi minimnya pasokan cabai. Ia menyebutkan, kondisi tersebut berkaitan erat dengan siklus musim tanam cabai.
Menurut dia, masa tanam cabai di wilayahnya telah berakhir sejak awal Mei lalu. Memasuki musim kemarau, sebagian besar petani memilih beralih menanam komoditas lain yang lebih sesuai dengan kondisi saat ini.
’’Di sini siklus masa tanam cabai sudah berakhir sejak awal Mei lalu. Memasuki musim kemarau, petani di sini beralih ke komoditas lain, seperti kangkung dan jagung. Bahkan ada yang membiarkan lahannya kosong sambil menunggu musim hujan tiba,’’ ungkap Towil.
Ia menjelaskan, cabai merupakan salah satu tanaman yang lebih cocok dibudidayakan saat musim hujan. Jika dipaksakan ditanam pada musim kemarau, biaya tanam menjadi lebih tinggi, sedangkan hasil panen belum tentu maksimal.
Kondisi tersebut membuat pasokan cabai rawit dari sentra produksi berkurang, sementara kebutuhan masyarakat tetap berjalan. Pedagang dan konsumen pun harus menghadapi dampak kenaikan harga. Pihaknya pun berharap pemerintah segera turun tangan melakukan penstabilan harga dilapangan sehingga tidak memberatkan masyarakat terutama para pedagang makanan dan UMKM lainya. (fan/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto