DAWARBLANDONG - Puncak musim kemarau yang membuat mayoritas lahan pertanian di Kecamatan Dawarblandong gersang ternyata tidak sepenuhnya membawa paceklik. Bagi para petani di Desa Brayublandong, musim kering justru menjadi waktu yang paling ditunggu-tunggu untuk meraup pundi-pundi rupiah dari panen tanaman rimpang.
Tanaman rempah seperti kunyit dan temulawak ini sengaja ditanam sekali dalam setahun. Petani biasanya memanfaatkan awal musim hujan sebagai masa tanam awal. Uniknya, tanaman empon-empon ini tidak ditanam di lahan khusus, melainkan dibudidayakan secara tumpang sari di sela-sela tanaman pokok seperti cabai dan jagung.
Saat kemarau tiba dan komoditas utama sudah tidak bisa berproduksi akibat keterbatasan pasokan air, saat itulah petani beralih memanen rempah-rempah. Dengan berbekal garpu tanah dan linggis, mereka menguak dan menggali rimpang dari dalam tanah yang mengering.
Salah satu petani setempat, Supardi, mengungkapkan, tanaman rempah merupakan penopang utama ekonomi warga saat lahan pertanian lain tak bisa digarap. ’’Rempah-rempah ini merupakan tanaman penyelamat pemasukan petani saat musim kemarau. Harganya di tahun ini lumayan, mencapai Rp 3.000 per kilogram,’’ ujarnya, kemarin (7/8).
Dengan harga yang relatif stabil di angka Rp 3.000 per kilogram, hasil panen kunyit dan temulawak tahun ini dinilai mampu menutupi kebutuhan sehari-hari petani selama masa bera (lahan tidak ditanami) sembari menanti datangnya musim hujan.
Usai dipanen, para petani menyetorkan rempah-rempah tersebut kepada pengepul lokal. Nantinya, pasokan kunyit dan temulawak ini akan dikirim ke berbagai pabrik sebagai bahan baku pembuatan jamu serta obat-obatan herbal khas Nusantara. (fan/fen)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto