The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Masih di Atas Rp 18 Ribu

Imron Arlado • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 17:41 WIB
Uang rupiah dan dolar AS terlihat di salah satu tempat penukaran valuta asing. Rupiah dibuka di level Rp18.075 per dolar AS pada perdagangan Kamis (30/7), setelah The Fed mempertahankan suku bunga 3,50–3,75 persen.
Uang rupiah dan dolar AS terlihat di salah satu tempat penukaran valuta asing. Rupiah dibuka di level Rp18.075 per dolar AS pada perdagangan Kamis (30/7), setelah The Fed mempertahankan suku bunga 3,50–3,75 persen.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), kembali mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50 hingga 3,75 persen. Keputusan tersebut menjadi perhatian pasar karena nilai tukar rupiah masih berada di atas Rp 18 ribu per dolar AS.

Keputusan itu diambil dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28–29 Juli 2026 waktu setempat. The Fed memilih mempertahankan suku bunga meski inflasi AS masih berada di atas target yang ditetapkan sebesar 2 persen.

Pergerakan rupiah pada Kamis (30/7) juga masih berada di bawah tekanan. Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip Warta Ekonomi, rupiah dibuka pada level Rp18.075 per dolar AS. Posisi tersebut melemah tipis 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 18.073 per dolar AS.

Pergerakan rupiah kemudian masih berubah sepanjang perdagangan. Data pasar yang dipantau sekitar pukul 11.02 WIB menunjukkan rupiah berada di level Rp 18.059,8 per dolar AS. Pada perdagangan tersebut, rupiah bergerak di kisaran Rp 18.050 hingga Rp 18.090,4 per dolar AS.

Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga kali ini juga tidak diambil secara bulat. Hasil pemungutan suara menunjukkan sembilan pejabat mendukung keputusan untuk menahan suku bunga, sedangkan tiga pejabat lainnya menginginkan kenaikan sebesar 25 basis poin.

Tiga pejabat tersebut yakni Presiden Federal Reserve Bank of Dallas Lorie Logan, Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack. Mereka menilai kebijakan yang lebih ketat masih diperlukan karena inflasi AS belum kembali ke target 2 persen.

Dalam pernyataannya, The Fed menyebut aktivitas ekonomi AS masih tumbuh dengan cukup baik. Namun, ketidakpastian masih tinggi. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah dan tekanan harga energi.

Kebijakan The Fed menjadi salah satu hal yang diperhatikan pasar karena dapat memengaruhi pergerakan dolar AS. Ketika suku bunga AS masih berada pada level tinggi, aset dalam dolar dapat tetap menarik bagi investor. Kondisi tersebut kemudian bisa ikut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Meski begitu, pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh kebijakan bank sentral AS. Kondisi dolar AS, perkembangan geopolitik, harga minyak, serta sentimen investor juga ikut mempengaruhi nilai tukar.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) juga terus memperhatikan stabilitas rupiah. Berdasarkan data BI-7 Day Reverse Repo Rate, suku bunga acuan BI berada di level 5,75 persen pada 22 Juli 2026.

Posisi tersebut naik dibandingkan 5,50 persen pada 9 Juni 2026. Kebijakan suku bunga BI menjadi salah satu langkah yang dapat digunakan untuk menjaga stabilitas perekonomian dan nilai tukar di tengah perubahan kondisi global.

Pergerakan rupiah terhadap dolar AS juga dapat dirasakan dalam kegiatan ekonomi sehari-hari. Jika rupiah melemah, biaya barang atau bahan baku yang berasal dari luar negeri dapat ikut terdampak. Masyarakat yang melakukan perjalanan ke luar negeri juga perlu menyiapkan rupiah lebih banyak ketika menukarkannya dengan dolar AS.

Bagi pelaku usaha, perubahan nilai tukar juga menjadi perhatian, terutama bagi usaha yang masih bergantung pada barang atau bahan baku impor. Namun, perubahan kurs tidak secara otomatis membuat seluruh harga barang naik karena masih ada faktor lain yang mempengaruhinya.

Ke depan, pasar masih akan mencermati arah kebijakan The Fed dan Bank Indonesia. Perkembangan inflasi AS, kondisi ekonomi global, harga energi, serta situasi geopolitik juga akan menjadi faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan dolar AS dan rupiah.

Dengan suku bunga The Fed yang masih bertahan di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen, rupiah pun masih menghadapi sejumlah sentimen dari pasar global. Pergerakannya akan terus menjadi perhatian, terutama setelah nilai tukar berada di atas Rp 18 ribu per dolar AS. NISRINA

 

Editor : Imron Arlado
dolar as The Fed rupiah suku bunga ekonomi