KOTA - Pemkot Mojokerto mendorong pelaku UMKM kuliner mengembangkan produk olahan berbasis pangan lokal. Di samping memperkaya diversifikasi pangan, mereka juga diharapkan dapat memanfaatkan setiap bahan secara maksimal agar tak terbuang.
Upaya pemberdayaan sektor UMKM itu dilakulan lewat kegiatan Pelatihan Olahan Pangan Lokal Dalam Rangka Percepatan Penganekaragaman Pangan dari Sumber Daya Lokal. Pelatihan ini diikuti puluhan pengusaha kuliner. Acara digelar oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Mojokerto di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Maja Citra Kinarya, Selasa (28/7).
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menyatakan, keberagaman pangan lokal harus dimanfaatkan secara maksimal. Selama ini, komoditas seperti singkong masih kerap dipandang sebelah mata sebagai bahan sampingan yang sekadar diolah jadi makanan ringan. Padahal, jenis umbi-umbian merupakan sumber karhobidrat yang bisa menjadi makanan pokok. ’’Yang perlu kita ubah adalah cara pandang kita. Olahan berbahan singkong bukan sekadar camilan, tetapi juga bisa menjadi alternatif makanan pokok,’’ ujarnya saat memberi arahan.
Menurutnya, ketergantungan pada satu komoditas harus mulai dilepaskan. Masyarakat perlu membiasakan diri memanfaatkan berbagai jenis bahan pangan lokal yang berlimpah. Beragam olahan seperti getuk, sawut, lemet, hingga tiwul bisa dihasilkan dari satu bahan, yakni singkong. ’’Di sinilah kreativitas pelaku UMKM diperlukan untuk menghadirkan olahan yang lebih menarik dan diminati masyarakat,’’ imbuh Ning Ita, sapaannya.
Tak hanya mendorong terciptanya diversifikasi pangan, Ning Ita juga mengajak pelaku UMKM memanfaatkan bahan pangan secara optimal agar tak terbuang jadi limbah. Konsep zero waste cooking itu dapat diterapkan dengan mengolah sisa bahan makanan menjadi produk lain yang bernilai tambah. Selain itu, bahan sisa juga dapat dimanfaatkan sebagai kompos atau pakan maggot.
’’Kreativitas tidak hanya menciptakan menu baru, tetapi juga memanfaatkan bahan pangan secara maksimal agar tidak terbuang. Dengan begitu, kita tidak hanya menghasilkan produk yang bernilai ekonomi, tetapi juga ikut mengurangi food waste dan sampah organik,’’ tuturnya.
Ning Ita berharap ilmu yang dapat dalam pelatihan bisa membantu mengembangkan usaha masing-masing. Dengan demikian akan semakin banyak produk pangan lokal yang inovatif, sehat, dan memiliki daya saing. ’’Saya berharap seluruh materi yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dalam pengembangan usaha, sehingga mampu menghadirkan produk olahan pangan lokal yang semakin beragam, berkualitas, dan memiliki nilai tambah,’’ ucapnya. (adi/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto