HAMPARAN kebun kopi di lereng pegunungan wilayah Kabupaten Mojokerto terus meluas. Aroma kopi yang selama ini identik dengan kawasan Trawas, Pacet, dan Jatirejo kini tak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga mulai menjelma menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru daerah.
Data Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto sebagaimana dikutip dalam Mojokerto Dalam Angka Tahun 2025 terbitan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto menunjukkan luas areal tanaman kopi pada 2025 mencapai 374,57 hektare (ha). Angka itu meningkat 41,47 ha atau sekitar 12,45 persen dibanding tahun sebelumnya yang seluas 333,10 ha.
Peningkatan tersebut menandakan minat masyarakat untuk kembali mengembangkan komoditas kopi terus tumbuh. Perluasan terbesar terjadi di Kecamatan Trawas yang bertambah dari 121 ha menjadi 147 ha, disusul Pacet dari 92,6 ha menjadi 112,5 ha. Jatirejo juga mengalami peningkatan meski tidak sebesar dua kecamatan tersebut.
Tak hanya lahannya yang bertambah, hasil panennya pun menunjukkan tren menggembirakan. Pada 2025, produksi kopi Kabupaten Mojokerto mencapai 332,1 ton. Trawas menjadi penyumbang terbesar dengan produksi 138,7 ton, disusul Jatirejo 110,5 ton, Pacet 74,1 ton, dan Gondang 8,8 ton. Dengan capaian tersebut, hampir 42 persen produksi kopi Mojokerto berasal dari Trawas.
Jika menengok data Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur sebagaimana dikutip dalam situs Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, perkembangan kopi Mojokerto memang menunjukkan tren positif dalam jangka panjang. Pada 2006, produksi kopi tercatat sekitar 10 ton. Sebelas tahun kemudian, angkanya meningkat menjadi 62 ton.
Kini, berdasarkan data Disperta Kabupaten Mojokerto dalam Mojokerto dalam Angka Tahun 2026, produksinya telah mencapai 332,1 ton. Di balik pertumbuhan tersebut, tantangan masih menanti. Peningkatan produksi harus diikuti dengan penguatan hilirisasi agar nilai tambah tidak berhenti di tingkat petani. ’’Pengolahan pascapanen, penguatan merek kopi lokal, perluasan pasar, hingga pengembangan agrowisata berbasis kopi menjadi pekerjaan rumah yang perlu dikerjakan bersama,’’ ujar Ahmad Ari Fibrianto.
Apalagi, kawasan Trawas, Pacet, dan Jatirejo memiliki modal besar berupa bentang alam pegunungan, iklim yang mendukung, serta geliat wisata yang terus berkembang. ’’Jika potensi tersebut mampu dipadukan dengan penguatan industri kopi, Mojokerto bukan hanya dikenal sebagai daerah bersejarah peninggalan Majapahit, tetapi juga sebagai salah satu daerah penghasil kopi unggulan di Jawa Timur,’’ tandas Ari. (fen/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto