Bentang pegunungan Arjuno-Welirang, Penanggungan, hingga Anjasmoro bak anugerah alam yang luar biasa bagi Kabupaten Mojokerto. Di lereng-lerengnya tumbuh ’’tanaman emas’’ bernama kopi. Berakar di tanah vulkanik yang subur dan ditempa udara pegunungan yang sejuk, biji-biji kopi Mojokerto itu kini bisa diseduh di kafe-kafe kota yang skena.
DI tengah meningkatnya pamor kopi asal Trawas, para pelaku usaha kini mendorong lahirnya satu identitas yang lebih besar, Kopi Mojokerto. Sebuah branding yang diharapkan mampu menaungi seluruh sentra kopi di bumi Majapahit, dari Trawas, Pacet, Jatirejo, hingga kawasan lain yang mulai berkembang.
Gagasan itu disampaikan Ahmad Ari Fibrianto, pelaku kopi sekaligus pengelola kebun, roastery, hingga kedai Toko Kopi Mojojaya di Mojosari. Ari menceritakan, perjalanan memperkenalkan kopi Trawas dimulai sejak 2016. Saat itu belum banyak kedai kopi di Mojokerto yang menyajikan kopi murni dari petani lokal.
Budaya menikmati kopi spesialti baru berkembang di kota-kota besar, kemudian perlahan dibawa pulang ke Mojokerto. ’’Kami mulai mengenalkan kopi Trawas sejak 2016. Sekarang semakin banyak yang mengenal. Kami juga rutin mengikuti pameran dan berbagai event di Trawas,’’ ujarnya, kemarin (5/7).
Hasilnya mulai terlihat. Permintaan datang dari berbagai kota besar, bahkan hingga Kalimantan. Kopi Trawas kini dipasok ke berbagai kedai kopi di luar daerah. Menurut Ari, daya tarik utama kopi Trawas terletak pada karakter rasanya. Kopi arabika (coffea arabica) dari kawasan ini memiliki tingkat keasaman (acidity) yang nyaman dengan karakter rasa buah-buahan yang kuat, sehingga disukai penikmat kopi spesialti.
Untuk mengikuti perkembangan industri kopi, para pelaku usaha di Mojokerto juga terus berinovasi dalam proses pascapanen. Selain metode natural, honey, dan full wash, kini mereka mulai menerapkan fermentasi anaerobik yang mampu menghadirkan profil rasa lebih kompleks.
’’Fermentasi bisa memunculkan karakter seperti anggur, beri, aroma bunga, bahkan nuansa buah-buahan seperti belimbing. Rasanya menjadi lebih kaya tanpa menghilangkan karakter asli kopi,’’ jelasnya. Menurut Ari, daerah lain juga menerapkan teknik serupa. Namun, karakter dasar kopi Trawas tetap memberikan cita rasa yang berbeda, sehingga memiliki identitas tersendiri.
Selain arabika, petani Mojokerto juga mengembangkan robusta dan excelsa. Robusta memiliki produktivitas lebih tinggi dan banyak digunakan sebagai kopi tubruk. Sementara excelsa, yang juga berkembang di wilayah sekitar seperti Wonosalam, kini mulai mendapat perhatian dunia karena digunakan dalam berbagai kompetisi barista internasional.
Melihat perkembangan tersebut, Ari menilai peluang kopi Mojokerto semakin terbuka. Bahkan, sejumlah calon pembeli dari luar daerah datang langsung ke kebun untuk melihat proses budi daya dan membawa sampel sebelum melakukan pemesanan.
’’Yang masih menjadi kendala bukan pasar, tetapi kuantitas produksi. Permintaannya ada, tetapi hasil panen belum mampu memenuhi kebutuhan,’’ katanya. Menurutnya, hal itu wajar karena kopi bukan tanaman yang bisa dipanen dalam waktu singkat. Setelah ditanam, kopi baru mulai menghasilkan sekitar empat tahun kemudian. Kawasan Pacet dan Trawas pun masih terus menambah areal tanam.
Ari juga mengungkap kisah menarik di balik pengembangan kopi Mojokerto. Saat pembukaan lahan kopi di kawasan Pacet dan Trawas, rencana penanaman sempat berubah karena ditemukan peninggalan cagar budaya berupa candi, sehingga sebagian lahan tidak jadi ditanami.
Di sisi lain, ia masih merawat sekitar 200 pohon kopi varietas Typica yang diyakini berasal dari tanaman yang dibawa pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1700. Varietas tersebut merupakan keturunan kopi asal Sudan, Afrika yang ditanam di kawasan pegunungan dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). ’’Kalau ditanam di bawah 900 meter, kualitasnya tidak akan sebaik di dataran tinggi. Karena itu daerah sini menggunakan jenis yang berbeda sesuai kondisi lahannya,’’ katanya.
Prospek kopi yang semakin baik juga terlihat dari harga di tingkat petani. Jika empat tahun lalu harga buah kopi hanya berkisar Rp 8.000 hingga Rp 9.000 per kilogram, kini pada awal musim panen sudah mencapai sekitar Rp 15.000 per kilogram. Hasil panen pun menjadi rebutan pembeli.
Namun, tantangan belum sepenuhnya hilang. Dalam dua tahun terakhir, banyak petani mengalami gagal panen akibat cuaca yang tidak menentu. Di sisi lain, produksi robusta dan excelsa yang melimpah sempat menekan harga.
Fenomena perubahan iklim di negara produsen kopi dunia seperti Brasil dan Vietnam justru ikut memengaruhi pasar global. Produksi Brasil terganggu akibat cuaca ekstrem, sedangkan sebagian petani Vietnam beralih menanam durian. Kondisi itu membuat permintaan terhadap kopi Indonesia meningkat.
Menurut Ari, momentum tersebut harus dimanfaatkan Mojokerto. Pemerintah daerah dinilai telah banyak membantu melalui pelatihan maupun bantuan peralatan. Namun, satu pekerjaan besar yang masih harus diwujudkan adalah membangun identitas bersama.
’’Selama ini yang dikenal Kopi Trawas. Padahal, kopi juga ditanam di Pacet, Jatirejo, Pungging, Ngoro, bahkan mulai berkembang di Trowulan. Yang perlu dibangun adalah branding ’’Kopi Mojokerto’’. Nanti Trawas menjadi salah satu origin-nya, seperti Gayo atau Toraja, itu kan macam-macam,’’ ujarnya.
Baginya, langkah tersebut bukan untuk menghilangkan nama Trawas, melainkan memperkuat seluruh sentra kopi di Kabupaten Mojokerto dalam satu identitas yang sama. Dengan demikian, setiap daerah tetap memiliki kekhasan asal (origin), tetapi dipromosikan melalui payung besar bernama Kopi Mojokerto.
’’Mojokerto punya peluang untuk terangkat. Jangan sampai potensi daerah lain justru tertutup karena orang hanya mengenal Trawas. Branding ini perlu melibatkan pemerintah, sedangkan kami sebagai pelaku kopi siap mengikuti arah pengembangannya,’’ pungkas alumnus Program Studi Administrasi Negara FISIP Universitas Jember angkatan 2007 tersebut. (fen/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto