”Setiap tantangan selalu membawa peluang bagi mereka yang siap berubah. Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya bertahan, tetapi harus berani bertransformasi.”
Megawati Citra Alam
Ketua HIPMI Kota Mojokerto
Tantangan dan Inovasi Perusahaan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
KOTA - Dunia usaha saat ini menghadapi tantangan yang tidak mudah. Ketidakpastian ekonomi global, perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi, hingga dinamika geopolitik menuntut setiap perusahaan untuk bergerak lebih adaptif. Dalam kondisi seperti ini, inovasi bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan fondasi utama agar perusahaan tetap bertahan dan berkembang.
Demikian itu disampaikan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda (HIPMI) Kota Mojokerto Megawati Citra Alam, kemarin (7/7). Ia menuturkan, di tengah situasi seperti ini, inovasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. ”Inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru. Hal-hal sederhana, seperti memperbaiki pelayanan, memanfaatkan teknologi digital, mempercepat proses kerja, hingga lebih peka terhadap kebutuhan pelanggan juga merupakan bentuk inovasi yang sangat berarti,” terang perempuan yang karib disapa Mega ini.
Dengan demikian, ia menilai, perusahaan yang mau terus belajar dan berubah akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Mega mengaku belakangan ini melihat banyak pelaku usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mulai berani memanfaatkan media digital, membangun merek, dan memperluas pasar melalui kolaborasi.
Langkah-langkah seperti ini, terangnya, terbukti mampu meningkatkan daya saing sekaligus membuka peluang usaha baru. ”Ketika perusahaan terus berinovasi, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh bisnis itu sendiri, tetapi juga oleh masyarakat melalui terciptanya lapangan kerja dan meningkatnya perputaran ekonomi daerah,” tandasnya.
Di sisi lain, lanjutnya, ketidakpastian ekonomi harus dihadapi dengan strategi yang matang. Perusahaan perlu lebih bijak mengelola keuangan, memperluas pasar, memperkuat jaringan usaha, dan tidak bergantung pada satu sumber pendapatan. ”Salah satu kunci dari semua itu adalah fleksibilitas. Perusahaan yang mampu membaca perubahan dengan cepat akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan yang datang,” imbuh Mega.
HIPMI memandang ekonomi kreatif juga memiliki peran yang semakin besar. Kreativitas mampu memberi nilai tambah pada sebuah produk, sehingga memiliki daya tarik yang lebih tinggi. Di Mojokerto, tutur Mega, kekayaan sejarah, budaya, dan potensi lokal adalah modal besar yang bisa dipadukan dengan kreativitas anak muda untuk melahirkan produk yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki identitas yang kuat. ”Yang tidak kalah penting adalah menjaga sumber daya manusia (SDM),” tukasnya.
Sehingga dalam situasi sulit, urai Mega, pengurangan tenaga kerja seharusnya menjadi pilihan terakhir. Semisal, sebelum mengambil langkah tersebut, perusahaan perlu mengupayakan efisiensi di sektor lain, meningkatkan keterampilan karyawan, atau bahkan membuka peluang usaha baru. ”Artinya, karyawan bukan sekedar angka dalam laporan keuangan, tetapi bagian dari perjalanan dan kekuatan perusahaan,” paparnya.
Di sisi lain, karyawan juga memiliki tanggung jawab untuk terus berkembang dan menjaga profesionalisme. Kesempatan mengikuti pelatihan, sertifikasi, atau pengembangan kompetensi yang difasilitasi perusahaan seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan kualitas diri.
Oleh sebab itu, menurut Mega, ketika memiliki keterampilan yang dibutuhkan perusahaan, karyawan juga perlu menunjukkan komitmen, etos kerja, dan loyalitas yang baik, bukan sebaliknya, bersikap semena-mena karena merasa sulit tergantikan. ”Hubungan antara perusahaan dan pekerja harus dibangun atas dasar saling menghargai, saling membutuhkan, dan saling bertumbuh,” paparnya.
Dengan demikian, produktivitas perusahaan meningkat, sementara kesejahteraan karyawan juga dapat terjaga secara berkelanjutan. ”Setiap tantangan selalu membawa peluang bagi mereka yang siap berubah. Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya bertahan, tetapi harus berani bertransformasi,” tuturnya.
Ia optimistis, ketika inovasi, kolaborasi, dan kepedulian terhadap SDM berjalan beriringan, dunia usaha Indonesia, khususnya di Mojokerto, akan tumbuh lebih tangguh dan kompetitif. ”Dan mampu menjadi penggerak utama perekonomian di masa depan,” pungkasnya. (ris)
Editor : Fendy Hermansyah