Perempuan berkacamata ini menuturkan, sejak dua hari kemarin SPBU tempatnya bekerja belum ada pengiriman untuk jatah BBM subsidi, baik solar maupun Pertalite. Namun, Leli mengaku tidak mengetahui persis penyebab di balik keterlambatan pengiriman BBM. Beberapa kali mengonfirmasi pihak pengirim maupun depo Pertamina, ia tak mendapati jawaban yang jelas. ’’Katanya mereka juga tidak tahu, pokoknya ditunggu saja. Bilangnya begitu,’’ paparnya.
Di samping kendaraan besar memilih menunggu pengiriman dan balik kucing saat masuk SPBU, mobil pribadi dan motor pun tak sedikit yang terpaksa melanjutkan perjalanan akibat stok Pertalite habis. Sebab, stok yang tersisa saat ini hanya untuk jenis Pertamax biasa dan Pertamax Green.
Beruntung antrean tersebut sedikit terurai, setelah depo Pertamina mengirimkan DO solar bersubsidi melalui satu unit truk tangki berkapasitas 24 ribu liter. ’’Itu pun sebenarnya adalah DO kami tanggal 21 Juni. Kemarin-kemarin, selama dua hari, tidak ada kiriman sama sekali,’’ terang Leli.
Dalam waktu sekejap kawasan SPBU pun dipadati kendaraan pengguna BBM solar. Baik yang sudah mengantre sejak dua hari maupun yang baru datang mengantre. Sehingga, pihak SPBU memutuskan untuk melakukan kebijakan pembatasan pembelian solar.
Yakni maksimal Rp 200 ribu untuk kendaraan kecil dan bus Trans Jatim. Sedangkan truk dan bus besar maksimal hanya Rp 400-Rp 500 ribu per armada. ’’Kalau tidak diterapkan begitu, nanti kasihan yang sudah mengantre di belakang. Khawatirnya tidak kebagian,’’ pungkasnya. (ris/fen)
Editor : Fendy Hermansyah