Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

BBM Subsidi di Mojokerto Langka

Moch. Chariris • Jumat, 26 Juni 2026 | 01:18 WIB
TERPAKSA BERMALAM: Antrean truk angkutan barang rela menunggu pengiriman solar bersubsidi dari depo Pertamina di SPBU 54.613.01, Jalan Raya Bypass Mojokerto, Lingkungan Kuwung, Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, kemarin (25/6). (Sofan JPRM)
TERPAKSA BERMALAM: Antrean truk angkutan barang rela menunggu pengiriman solar bersubsidi dari depo Pertamina di SPBU 54.613.01, Jalan Raya Bypass Mojokerto, Lingkungan Kuwung, Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, kemarin (25/6). (Sofan JPRM) 

-         SPBU Kehabisan Stok Jenis Pertalite dan Biosolar

-         Sopir Truk Angkutan Mengantre Selama Dua Hari 

Bahan bakar minyak (BBM) sudah menjadi nadi bagi dunia transportasi. Namun, dalam beberapa hari terakhir ini, kalangan sopir dan masyarakat kelimpungan mendapatkan BBM subsidi, khususnya jenis solar dan Pertalite. Mereka harus balik kucing atau mengantre di SPBU hingga berjam-jam, bahkan hitungan hari, sekadar untuk mendapatkan BBM agar laju kendaraan tetap berjalan. Selain dikeluhkan para sopir, kondisi tersebut juga menghambat roda usaha dan perekonomian warga. 

Puluhan truk berbagai jenis dan dimensi itu antre mengular di kawasan SPBU Jalan Raya Bypass Mojokerto, Lingkungan Kuwung, Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, kemarin (25/6) pagi. Mulai dari jenis truk tronton, gandeng, wing box, hingga kelas diesel. Kendaraan angkutan barang tersebut baris terparkir di sisi barat jalan atau dari arah Jombang menuju Surabaya, tepat di akses masuk kawasan SPBU. 

Beberapa di antaranya juga terlihat menepi di sisi timur jalan trans nasional tersebut atau dari arah Surabaya menuju Jombang. Ruang kemudi di antaranya tampak kosong setelah para sopir memilih istirahat di warung dan bawah truk. Selebihnya, tiduran dalam kabin dan belakang ruang kemudi.

Truk-truk itu tak hanya mengantre sejak pagi, namun sebagian lainnya sudah sejak Rabu (24/6) sore memutuskan untuk menghentikan perjalanan. Hal ini, tak lain karena tangki truk berbahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar atau biosolar mereka menipis.

Sebagian besar menyisakan tidak lebih dari 3-5 liter.  Sehingga jika tetap dipaksakan melanjutkan perjalanan para sopir khawatir tidak akan mendapatkan solar di titik SPBU yang dilewati. Padahal, angkutan-angkutan kendaraan barang tersebut rata-rata menempuh perjalanan luar kota dalam provinsi, bahkan  antarprovinsi.  ’’Dua hari satu malam saya tidak dapat solar sampai sekarang (kemarin, Red). Solar di tangki sudah sangat menipis,’’ ujar Deny, 64, sopir truk pengangkut mi instan. 

Dengan wajah kusam akibat menunggu antrean semalaman, warga Dusun Gempol Joyo, Desa/Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan ini mengaku sejatinya sedang dalam perjalanan dari Solo menuju Manyar, Kabupaten Gresik untuk mengambil angkutan mi instan. 

Akan tetapi, begitu memasuki kawasan Mojokerto dirinya tidak berhasil mendapatkan solar dari setiap SPBU yang dihampiri. Akibatnya, dirinya memutuskan memilih bermalam di sekitar SPBU Lingkungan Kuwung, Kelurahan Meri. Meski keputusan tersebut berdampak terhadap dibatalkannya delivery order (DO) dan membengkaknya biaya hidup di perjalanan. ’’Ya, ini susahnya jadi sopir, solar sulit, biaya hidup bengkak. Kami kan makan di warung dan itu bayar sendiri,’’ tandasnya dengan nada kesal. 

Bakhron, sopir truk asal Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto mengungkapkan hal serupa.  Sudah sejak Rabu (24/6) pukul 21.00 WIB, ia memilih ikut mengantre bersama sopir truk lainnya akibat stok solarnya menipis. Kendati hingga kemarin (25/6) pagi pihak SPBU menyatakan BBM jenis solar masih kosong dan mengalami keterlambatan pengiriman.

’’Solarnya susah. Sudah cari sampai Krian, Sidoarjo, sejak kemarin (24/6) semua nggak ada. Sempat isi solar Dexlite Rp 200 ribu. Karena harganya mahal ya cukup perjalanan untuk mengantre di sini. Kalau dipaksakan pakai Dexlite terus, operasionalnya nggak nutut,’’ tukas pria 42 tahun ini. 

Akibat sulitnya mendapatkan solar bersubsidi ini,  jadwal perjalanannya muat barang karton dari PT Tjiwi Kimia dan akan dikirim ke Bali tersendat hingga dua hari. ’’Jadinya dikejar-kejar sama pihak pemesan, kenapa sampai sekarang belum bongkar muatan barang,’’ tandasnya menirukan pertanyaan pemesan via handphone.

Kondisi tersebut juga berdampak terhadap kebutuhan operasional hingga 20 persen. Utamanya untuk menopang biaya hidup selama perjalanan dan menunggu antrean solar. ’’Kalau normal, perjalanan ke Bali biasanya habis Rp 3 juta, sekarang membengkak Rp 500 sampai Rp 700 ribu,’’ imbuhnya.

Hingga siang, kendaraan bus dan truk antre isi solar hingga mengular sepanjang 300 meter memakan badan jalan raya Bypass Mojokerto. Sulapi, salah satu sopir truk menambahkan, banyak SPBU di Mojokerto kehabisan stok biosolar yang dibanderol Rp 6.800 per liter itu. ”Jangankan antre begini, di Mojokerto banyak solar yang kosong. Paling parah dua hari terakhir ini,” terang sopir truk perusahaan distributor elpiji di Mojokerto, ini. 

Ia mengaku lebih memilih antre panjang ketimbang membeli Dexlite seharga Rp 23 ribu per liter. ”Kalau beli Dex jalas nggak nutut (ongkosnya, Red),” tandasnya. Sulapi sudah sekitar satu jam pria 66 tahun ini menunggu giliran truknya isi BBM. Praktis, operasional armadanya terdampak kelangkaan solar subsidi tersebut.  ”Kalau antre lama seperti ini khawatir kemalaman balik ke pengisian,” tukas warga Kecamatan Dlanggu, ini.  (vad/ris/fen) 

Editor : Fendy Hermansyah
#bbm subsidi mojokerto #spbu kehabisan stok #pertalite habis #spbu mojokerto