KABUPATEN - Cuaca ekstrem pada awal musim kemarau tahun ini membuat para petani tembakau di wilayah utara Sungai Brantas, Kabupaten Mojokerto, gigit jari. Curah hujan yang masih kerap turun menyebabkan tanaman tembakau layu hingga petani mengalami gagal tanam berulang kali.
Padahal, tembakau merupakan komoditas unggulan yang selama ini menjadi andalan warga setempat saat musim kemarau tiba. Dampak anomali cuaca tersebut salah satunya dirasakan petani di Dusun Jublangsari, Desa Simongagrok, Kecamatan Dawarblandong.
Mereka mengeluhkan modal yang terus terkuras akibat harus berulang kali menanam ulang. ’’Kami sudah tiga kali mengalami gagal tanam dalam kurun waktu April hingga Juni ini,’’ ujar Basori, salah seorang petani Desa Simongagrok.
Menurutnya, setiap kali bibit selesai ditanam, hujan kembali turun dan merusak akar tanaman hingga membusuk. Untuk mengantisipasi kondisi itu, petani kemudian menerapkan sistem guludan, yakni metode tanam pada tumpukan tanah memanjang yang diselingi saluran air atau parit. Cara tersebut dilakukan untuk mengurangi kadar air di sekitar akar tanaman.
Kondisi serupa juga dialami petani di wilayah tetangga. Jari, petani tembakau asal Dusun Balong, Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, mengeluhkan tanaman tembakau miliknya yang mulai layu. Hujan deras yang mengguyur dalam beberapa hari terakhir membuat lahan tembakau tergenang.
Demi menyelamatkan tanaman yang tersisa, Jari dan petani lainnya terpaksa mengeluarkan biaya tambahan. ’’Hujan deras beberapa hari terakhir ini membuat tanaman tembakau layu. Kami harus mengeluarkan anggaran lebih untuk membeli pupuk cair penguat tanaman di tengah terpaan hujan,’’ ungkapnya.
Bagi masyarakat di wilayah utara Sungai Brantas, tembakau merupakan tumpuan ekonomi utama ketika musim kemarau datang. Tanaman ini selama ini dipilih karena relatif tidak membutuhkan banyak air dan cocok ditanam saat cuaca panas.
Namun, fenomena kemarau basah tahun ini justru membalik keadaan. Petani tidak hanya terancam gagal panen, tetapi juga harus menanggung pembengkakan biaya produksi akibat cuaca yang sulit diprediksi. (fan/fen)
Editor : Fendy Hermansyah