- - Petani Jual Rp 25 ribu-30 Ribu Per Kg
- - Harga di Pasar Tanjung Rp 60 Ribu Per Kg
DAWARBLANDONG - Hasil panen petani cabai rawit di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, merosot akibat serangan hama antraknosa (patek) dan busuk batang. Kualitas cabai yang menurun turut memengaruhi permintaan yang berakibat rendahnya harga di pasaran.
Dampak penyakit tanaman itu salah satunya dirasakan Joko Wijanarko. Petani di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Dawarblandong, itu mengatakan, serangan antraknosa dan busuk batang berdampak signifikan. Penyakit jamur ini menyebabkan hasil panen melorot 40-50 persen. ’’Biasanya yang punya lahan luas sekali panen bisa dapat 2 kuintal, sekarang cuma 90-120 kilogram (kg),’’ tuturnya, kemarin (22/4).
Pria yang juga Kepala Dusun Geneng, Desa Sumberwuluh, itu menjelaskan, jamur antraknosa atau yang dikenal dengan nama patek menyebabkan buah busuk. Adapun serangan busuk batang lebih parah lagi. Tanaman cabai bisa layu dan mati sebelum waktunya. ’’Di wilayah Dawarblandong, akibat antraknosa dan busuk batang, akhirnya panen petani merosot,’’ imbuh dia.
Petani cabai di Dawarblandong memulai musim panen sekitar Februari lalu. Hingga kini, rata-rata petani sudah belasan kali melakukan petik atau pemanenan. Seperti Joko, yang akhir pekan lalu sudah masuk masa petik ke-11. Kendati hasil panen turun, dirinya memperkirakan tetap bisa meraih untung. ’’Meskipun tidak banyak, setidaknya nggak rugi,’’ ucapnya.
Joko mengungkapkan, harga cabai di tingkat petani saat ini turun tinggal Rp 25-30 ribu per kg. Harga ini anjlok jauh dibanding awal tahun yang menyentuh Rp 90 ribu per kg. Menurutnya, serangan hama turut memengaruhi harga jual. Permintaan pasar menjadi lesu akibat maraknya cabai yang terkena penyakit. ’’Tengkulak tidak mau risiko, jadi efeknya permintaan pasar juga kurang greget gara-gara patek,’’ tandasnya.
Di samping itu, saat ini hampir seluruh petani cabai di wilayah Jawa Timur juga memasuki masa panen raya. Melimpahnya pasokan kian menekan harga di tingkat petani dan pasar. ’’Selain penyakit, wilayah lain sekitar Mojokerto sudah banyak yang panen raya,’’ katanya. Joko mengaku masih bisa lima kali lagi petik pada sisa masa panen kali ini. Setelah itu, lahan nantinya akan diganti dengan tanaman jagung.
Sementara itu, Ardian Firmansyah, penjual cabai di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, mengatakan, harga cabai rawit eceran berada di kisaran Rp 60 ribu per kg pada akhir pekan lalu. ’’Harganya stagnan segitu,’’ ujarnya, kemarin (22/4).
Berdasarkan pantauan di laman Siskaperbapo Jatim per kemarin, harga cabai rawit di Pasar Tanjung Anyar Rp 57 ribu per kg pada Sabtu (19/4). Sementara itu, kemarin (22/4), harga bumbu pedas tersebut turun menjadi Rp 51 ribu per kg. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah