Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

LPPM Universitas Ciputra Surabaya Sulap Limbah Upholstery Jadi Produk Interior Bernilai Ekonomi

Imron Arlado • Senin, 20 April 2026 | 07:07 WIB
BERNILAI GUNA: Salah satu produk interior yang diciptakan LPPM UC dengan memanfaatkan bahan limbah. (Ok-ris/ INDAH)
BERNILAI GUNA: Salah satu produk interior yang diciptakan LPPM UC dengan memanfaatkan bahan limbah. (INDAH)

 

Tim Lembaga Penelitian dan Pengadian Masyarakat Universitas Ciputra (LPPM UC) Surabaya menghadirkan pendekatan baru dalam memanfaatkan limbah padat di industri konstruksi interior. Berangkat dari meningkatnya kesadaran akan pentingnya keberlanjutan lingkungan, mereka berinisiatif membuat inovasi tersebut.

Adalah limbah kain upholstery atau kain pembungkus sofa yang sudah diskontinyu. Material yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai, kini disulap menjadi produk seni untuk elemen interior yang  bernilai ekonomis.

Program ini merupakan kegiatan yang rutin dilakukan dan menyasar pada kelompok masyarakat yang membutuhkan pelatihan dan pendampingan kreativitas produk. Kelompok kecil masyarakat Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang mayoritas ibu rumah tangga ini mendapat pengetahuan baru bagaimana mengolah material kain sofa untuk dikreasikan menjadi produk yang bernilai seni. 

Baca Juga: Cuaca Panas Bukan Menjadi Halangan, Ini 5 Rekomendasi Tanaman Hias yang Bisa Kamu Tanam di Halaman Rumah

Kelompok kecil ini sebelumnya telah aktif dalam kegiatan kerajinan tangan, khususnya menjahit berbasis kain perca dari industri konveksi rumahan. Namun, seperti kebanyakan UMKM lainnya, mereka menghadapi tantangan klasik, yaitu keterbatasan inovasi dan pengetahuan baru terhadap material produk interior. 

Produk yang dihasilkan cenderung repetitif, kurang ada sentuhan seni dan relatif kurang kompetitif. Program ini memperkenalkan material upholstery, yaitu kain pembungkus sofa yang berasal dari sampel material untuk proyek interior yang sudah tidak diproduksi lagi atau diskontinyu. 

BERI SENTUHAN: Proses pengolahan limbah upholstery diskontinyu yang akan dijadikan produk interior. (INDAH)
BERI SENTUHAN: Proses pengolahan limbah upholstery diskontinyu yang akan dijadikan produk interior. (INDAH)

 

”Program ini sekaligus menjawab tantangan yang lebih besar dalam konteks nasional. Pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong penguatan ekonomi kreatif melalui inovasi produk dan pemanfaatan sumber daya pada industri lokal.”

Dr.Sn Tri Noviyanto P. Utomo

Ketua Tim Pelaksana Program

Material ini memiliki karakter yang berbeda, lebih tebal, kuat, bertekstur, dan seringkali memiliki motif serta warna-warna pastel yang beragam, karena sebagian berasal dari barang impor. Sayangnya, dalam praktik industri, material ini umumnya berakhir sebagai limbah padat dan dibuang  tanpa nilai ekonomi. 

Baca Juga: Daftar Candi Peninggalan Majapahit yang Wajib Dikunjungi Minimal Sekali Seumur Hidup

”Padahal, potensi material ini sangat besar jika diolah dengan pendekatan seni dan desain yang tepat,” ungkap Ketua Tim Pelaksana Program Dr.Sn Tri Noviyanto P. Utomo. 

Dosen Arsitektur Universitas Ciputra ini menjelaskan, pemanfaatan material tersebut tidak hanya sebagai solusi masalah lingkungan semata. Tetapi juga sebagai pencipta peluang ekonomi baru bagi masyarakat yang kreatif. ”Program ini sekaligus menjawab tantangan yang lebih besar dalam konteks nasional. Pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong penguatan ekonomi kreatif melalui inovasi produk dan pemanfaatan sumber daya pada industri lokal,” terang Kepala Laboratorium Produk Interior Fakultas Industri Kreatif UC, ini.

Pemanfaatan limbah industri sebagai material kreatif menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung ekonomi sirkular (circular economy). Di mana limbah tak lagi dianggap sebagai akhir dari siklus produksi, tetapi sebagai awal dari siklus baru yang mewujud menjadi produk penunjang interior.

Baca Juga: Mitos Gunung Penanggungan: Sejarah sebagai Gunung Suci Masyarakat Jawa Kuno

Dalam konteks ini, pelatihan kepada masyarakat menjadi contoh konkret bagaimana konsep tersebut dapat diimplementasikan di tingkat akar rumput. Lebih dari sekadar pelatihan teknis, program ini juga membawa misi sosial dan ekologis. Di satu sisi, masyarakat mendapatkan peningkatan keterampilan dan peluang ekonomi baru. 

Di sisi lain, limbah sisa industri yang sebelumnya tidak terpakai kini dapat dimanfaatkan kembali, yang pada akhirnya juga mengurangi beban lingkungan. ”Desain hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang fungsi, tetapi juga tentang nilai sosial, ekologis, dan kultural,” tambah salah satu anggota tim, Ir. Gervasius Herry Purwoko, MT. 

Kombinasi keempat aspek ini menjadikan program tidak hanya sebagai kegiatan pelatihan biasa, tetapi sebagai model pengembangan kreativitas masyarakat yang berbasis pada desain berkelanjutan. Dari sampel kain sofa diskontinyu, lahir harapan baru dan bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi masa depan ekonomi kreatif masyarakat lokal. 

Baca Juga: Tips Jitu Mengelola Homestay di Daerah Wisata Trawas agar Selalu Ramai Tamu

”Secara keseluruhan, program ini menawarkan empat pilar utama inovasi: pemanfaatan limbah upholstery, pengembangan teknik patchwork dan quilting, serta pendekatan kuratorial dalam pengembangan produk,” ulas Fabio dan Yoanita T, yang turut menjadi kurator dari kegiatan pelatihan ini. (oce/ris)

Editor : Imron Arlado
#limbah upholstery #inovasi produk #limbah industri kreatif #Universitas Ciputra Surabaya #produk interior