MOJOKERTO RAYA - Bulan Ramadan sudah mencapai pengujung. Setelah sebulan penuh menjalankan ibdah puasa, umat muslim kini menyambut kemenangan di Hari Raya Lebaran. Momentum Idul Fitri tidak lepas dari serangkaian tradisi dan budaya. Beberapa kultur mungkin telah luntur tergerus zaman, namun ada pula kearifan lokal yang hingga kini terawat di tengah masyarakat.
Salah satu kebiasaan yang masih tampak adalah prepegan. Sebuah tradisi yang muncul di akhir Ramadan ini ditandai dengan warga yang berbondong-bondong menuju pasar tradisional. Masyarakat berbelanja aneka kebutuhan bahan makanan hingga pakaian untuk persiapan Idul Fitri. ”Pada saat prepegan, suasana pasar dipadati oleh pengunjung,” ungkap sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq.
Tak hanya itu, ramainya pasar tradisional juga disebabkan karena munculnya pedagang dadakan. Para penjual menjajakan barang hingga berbagai makanan. Momentum ini yang hanya dapat dijumpai saat jelang Lebaran.
Karenanya, tradisi ini disebut sebagai prepegan. ”Prepegan berasal dari kata rempeg yang berarti berdesakan. Situasi saling berdesakan oleh banyak orang di pasar itu yang melatarbelakangi munculnya istilah prepegan,” tandas sosok yang akrab disapa Yuhan ini.
Di Mojokerto, prepegan tak hanya terjadi di pasar induk, suasana serupa juga lazim dijumpai di pasar-pasar desa. Puncak keramaian biasanya terjadi pada hari terakhir Ramadan. ”Karena pada saat Hari Raya Lebaran, di pasar tradisonal nyaris tidak ada aktivitas pedagang hingga hampir seminggu,” ulasnya. Sehingga dalam sekali transaksi, warga membeli untuk kebutuhan dalam waktu sepekan ke depan. Komoditas yang paling banyak diburu adalah bahan pokok dan bahan-bahan jajanan untuk suguhan pada Idul Fitri.
Kini, ungkap Yuhan, prepegan masih menjadi budaya di kalangan masyarakat Mojokerto. Meskipun dalam praktiknya mengalami pergeseran akibat perubahan zaman. Keramaian di pengujung Ramadan tak hanya terjadi di pasar tradisonal, melainkan juga di pusat perdagangan modern lainnya. Termasuk ditandai dengan kepadatan kendaraan bermotor di jalan raya. ”Keramaian menjadi makin menyebar, karena sekarang sudah banyak toko maupun kios di luar pasar,” pungkasnya. (ram/ris)
Editor : Fendy Hermansyah