Kendati Buah Tidak Maksimal dan Rontok karena Musim Hujan
KABUPATEN - Memasuki puncak musim penghujan di awal tahun ini petani cabai di utara Sungai Brantas mengalami kendala. Di antaranya buah cabai yang tumbuh tidak maksimal hingga mengalami kerontokan.
”Di awal Februari kali ini petani cabai Dawarblandong bersiap panen raya, tetapi karena curah hujan yang cukup tinggi sehingga berdampak pada kualitas buah,” ujar Towil Umurona, salah satu petani asal Desa Suru, Kecamatan Dawarblandong, kemarin (1/2).
Meski begitu sejumlah petani di kawasan tersebut memilih untuk memanen cabai lebih awal. ”Walau masih hijau, mumpung di pasaran harganya bagus,” imbuhnya.
Di sisi lain, para petani berharap pemerintah kembali menata regulasi pupuk bersubsidi, khususnya bagi petani penyewa lahan hutan di Kecamatan Dawarblandong dan Jetis, Kabupaten Mojokerto.
”Mengingat, di kawasan itu merupakan sentra petani cabai untuk memenuhi pasokan pangan, baik di kawasan Mojokerto hingga luar daerah,” tambah Suroso, petani cabai asal Dawarblandong.
Sementara itu, pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, kemarin harga cabai rawit telah mencapai Rp 80 ribu per kilogram (kg).
Kenaikan harga tersebut di antaranya dipicu akibat pasokan cabai dari berbagai daerah yang minim. Adrian, salah satu pedagang menuturkan, meski relatif mahal, namun komoditas bumbu dapur tersebut tetap diburu konsumen.
”Karena cabai merupakan bumbu dasar dalam setiap masakan, khususnya bagi para pedagang makanan,” jelasnya. (fan/ris)
Editor : Fendy Hermansyah