Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Melihat Cara Cafe Lawu 33 Kota Mojokerto Berdayakan Kaum Difabel

Fendy Hermansyah • Senin, 20 Oktober 2025 | 16:20 WIB
AJAK MANDIRI: Dua pramuniaga Cafe Lawu 33 dari siswa SLB berinteraksi menggunakan bahasa isyarat ketika melayani pengunjung, Jumat (3/10).
AJAK MANDIRI: Dua pramuniaga Cafe Lawu 33 dari siswa SLB berinteraksi menggunakan bahasa isyarat ketika melayani pengunjung, Jumat (3/10).

Terima Magang Siswa SLB, Pesan Menu Pakai Kode Isyarat

Upaya memberdayakan kaum penyandang disabilitas bermunculan di kalangan pegiat usaha kuliner. Mereka merekrut, melatih, hingga mengajak para kaum difabel itu menjadi pribadi mandiri. Salah satunya dilakukan Cafe Lawu 33 ini.

ARIEF HIKMAWAN, Kota

DI sebuah gang kecil di kawasan Perumahan Magersari Indah, Kota Mojokerto, berdiri sebuah kafe sederhana namun sarat makna. Namanya Cafe Lawu 33, sesuai alamatnya di Jalan Lawu Gang 3 Nomor 3. Dari luar tampak biasa saja, tapi begitu masuk, pengunjung akan merasakan suasana yang berbeda.

Di balik meja kasir, seorang perempuan muda menyambut dengan gerakan tangan dan senyum ramah. Ia adalah Dewi, salah satu staf magang penyandang disabilitas tuna rungu. ’’Selamat datang di Cafe Lawu 33,’’ begitu arti sapaan dalam bahasa isyarat yang ia tunjukkan dengan percaya diri.

Dewi tidak sendiri. Ada lima rekannya dari SLB B Pertiwi Kota Mojokerto yang juga turut bekerja di kafe tersebut. Enam siswa itu-lima perempuan dan satu laki-laki-menjalani program pelatihan kerja selama tiga bulan. Mereka bertugas di berbagai posisi, mulai dari kasir, barista, hingga dapur.

Suasana kafe terasa akrab dan inklusif. Setiap staf tampak sibuk di posisinya masing-masing. Meski memiliki keterbatasan pendengaran, mereka bekerja dengan fokus dan tanggung jawab layaknya karyawan profesional.

Pemilik kafe, Ferry Gunawan, mengatakan ide awal pendirian Cafe Lawu 33 bukan untuk mengejar keuntungan semata. Ia ingin membuka ruang kerja bagi mereka yang selama ini sulit mendapat kesempatan di dunia usaha. ’’Dengan program ini, mereka senang dan antusias karena punya pengalaman kerja nyata. Yang kami tekankan bukan hanya keterampilan, tapi juga rasa tanggung jawab dan disiplin dalam bekerja,’’ ujar Ferry.

Selama masa pelatihan, peserta magang mendapat pembinaan di berbagai bidang. Mulai dari pelayanan pelanggan, pengelolaan kasir, hingga keterampilan memasak. Ferry berharap program ini bisa menjadi bekal bagi mereka untuk bekerja dan hidup mandiri di masa depan.

’’Mereka tidak sekadar ikut-ikutan, tapi benar-benar kami latih agar punya kemampuan yang bisa diandalkan. Harapan terbesar kami, mereka bisa bekerja dan mandiri seperti anak-anak pada umumnya,’’ tambahnya.

Agar tetap nyaman, para peserta bekerja selama lima hingga enam jam per hari. Sistem pemesanan juga dirancang ramah disabilitas, dengan panduan visual dan pendampingan dari guru pembimbing. Ke depan, seluruh staf disabilitas akan dilatih berkomunikasi langsung dengan pelanggan menggunakan bahasa isyarat.

Antusiasme juga datang dari para orang tua peserta. Mereka bangga anak-anaknya diberi kesempatan untuk bekerja di lingkungan yang menghargai perbedaan.

Program ini rencananya akan dikembangkan lebih luas, bahkan membuka kesempatan bagi peserta dari luar Kota Mojokerto. ’’Nantinya akan ada prosesi wisuda bagi peserta yang lulus pelatihan. Harapan kami sederhana, dari gang kecil di Mojokerto ini lahir anak-anak disabilitas yang punya kemampuan, kemandirian, dan semangat hidup seperti manusia lainnya,’’ pungkas Ferry. (fen)

Editor : Hendra Junaedi
#kaum difabel #memberdayakan masyarakat #pengusaha kuliner #Cafe Lawu 33 Kota Mojokerto #kaum disabilitas