Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Harga Cabai dan Bawang di Kota Mojokerto Melonjak

Farisma Romawan • Jumat, 4 Juli 2025 | 15:45 WIB
MENIPIS: Pedagang bumbu dapur mengurangi stok barang dagangan setelah sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan harga sejak pekan lalu.
MENIPIS: Pedagang bumbu dapur mengurangi stok barang dagangan setelah sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan harga sejak pekan lalu.

Imbas Pembatasan Angkutan dan Stok Menipis

 KOTA – Sejumlah bahan pokok (bapok) menunjukkan kenaikan harga di pasar tradisional di Mojokerto. Khususnya cabai dan bawang merah yang kenaikannya cukup signifikan. Kenaikan ini disinyalir imbas dari stok barang yang menipis dan kenaikan ongkos distribuisi pasca pembatasan ODOL (over dimension over loading) pada angkutan barang.

 Bahkan, cabai rawit kini telah mencapai angka Rp 60 ribu per kilogram (kg) di tingkatan tengkulak. Sedangkan di level pengecer, harga si pedas ini telah menembus Rp 70 ribu per kg. Padahal, harga cabai sempat anjlok tajam di angka Rp 35 ribu pasca Lebaran, April lalu.

 Pantauan di sistem informasi ketersediaan dan perkembangan bahan pokok (Siskaperbapo), kenaikan ini telah berlangsung sejak pertengahan Juni lalu. Saat itu, bertepatan dengan aksi para sopir truk yang memprotes kebijakan pemerintah terkait pembatasan volume barang lewat Revisi Undang-Undang ODOL tiga pekan lalu.

 ’’Pasokan cabai di pasar sekarang hanya sedikit. Karena tidak bisa terangkut dari petani ke pasar. Stok cabai kami terpaksa dikurangi,’’ ungkap Adrian Firmansyah, pedagang bumbu dapur di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, kemarin (3/7). Selain distribusi yang tersendat, sejumlah pedagang juga mengeluhkan stok bahan pokok yang mulai menipis.

 Sejumlah tengkulak kini juga kesulitan mencari cabai hasil panen di beberapa daerah. Termasuk sentra pertanian cabai di Dawarblandong yang baru memulai musim tanam. ’’Cabai lokal Mojokerto sudah habis stoknya. Harga dari tengkulak perlahan naik Rp 40 ribu sejak Juni kemarin,’’ tambahnya.

 Selain cabai, harga bawang merah juga ikut melonjak imbas pembatasan volumen angkutan. Saat ini bawang merah sudah mencapai angka Rp 33 ribu per kg, dari semula yang berada di kisaran Rp 28 ribu per kg. Dengan kenaikan tersebut, banyak pedagang yang mengeluhkan omzet penjualannya turun hingga 30 persen.

 ”Saat ini masih ada panen di Situbondo, Nganjuk dan Mojokerto sendiri. Tapi, omzet turun, mungkin karena daya beli masyarakat yang juga turun,’’ tegas Khairur Rozikin, pedagang lain. Sejumlah harga bahan pokok lain juga terpantau fluktuatif. Hanya saja, nilainya terhitung masih wajar. Seperti daging ayam potong yang naik dari pekan lalu Rp 28 ribu per kg, menjadi Rp 32 ribu per kg.

 ’’Pasokan ayam dari Mojoanyar, Mojokerto. Harapannya, harga segera distabilkan Rp 30 ribu per kilogram supaya sama-sama untung,’’ tandas Gatot, pedagang lainnya. (far/ris)

 

Editor : Hendra Junaedi
#pasar tradisional #pasar tanjung anyar kota mojokerto #kenaikan harga #cabai #sembako #bawang merah #bahan pokok