Di Tingkat Petani si Pedas Tembus Rp 40 Ribu Per Kg
DAWARBLANDONG - Petani cabai di sebagian wilayah Kabupaten Mojokerto bakal memasuki masa panen raya di pertengahan bulan ini. Namun, belakangan mereka dibayangi serangan hama petek yang dapat merusak tanaman saat curah hujan tinggi.
Seperti para petani di Kecamatan Dawarblandong yang kini sudah mencicipi panen cabai. Sebagian cabai yang sudah memerah mulai dipetik. ”Belum semuanya matang, diambil yang merah-merah saja,” kata Sumaiyah, petani di Desa Temuireng, kemarin (4/2).
Di tingkat petani, harga cabai rawit biasa mencapai Rp 40 ribu per kilogram (kg). Sementara itu, untuk jenis cakra harganya sedikit lebih murah, yakni Rp 35 ribu per kg.
Menurut Sujik, 55, petani di Desa Madureso, harga tersebut terbilang standar. Tidak mahal, tapi juga tak murah. ”Kalau petani dengan harga segitu sudah bisa untung,” tuturnya.
Seperti Sumaiyah, Sujik juga sudah mengawali panen. Dari hasil dua kali petik sejak pekan lalu, dia mendapat 87 kilogram. Dia memperkirakan panen raya cabai bakal berlangsung sepekan atau dua pekan lagi. Pada pertengahan Februari ini, cabai-cabai bakal memerah semua.
Selama musim panen kali ini, Sujik mengaku lebih antusias. Sebab, harganya jauh melampaui musim panen tahun lalu yang hanya Rp 10 ribu per kg. Sujik merasa rugi meskipun menghasilkan 3 kuintal cabai dari lahan seluas kira-kira 750 meter persegi.
Namun demikian, cuaca ekstrem menjadi dilema tersendiri pada panen raya kali ini. Di satu sisi, pasokan yang terbatas karena banjir dan tanaman mati membuat harga meroket. Namun, di sisi lain, curah hujan yang tinggi dapat mematikan tanaman.
”Curah hujan jadi tantangan, karena bisa banyak yang mati. Meskipun estimasi kenaikan harga biasanya dari curah hujan terlalu tinggi yang membuat semua tempat banjir, tanaman cepat mati dan akhirnya cabai langka,” ulasnya.
Dalam situasi demikian, ancaman yang diwaspadai petani adalah serangan hama petek. Penyakit yang menyebabkan cabai mengering, keriting, dan membusuk, itu salah satunya dipicu hujan terus-terusan. ”Mudah-mudahan nanti tidak ada petek, punya saya sekarang ini sekitar 1 persen yang sudah mati,” tandasnya. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi