Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Harga Anjlok, Petani Tembakau Minta Pemerintah Peduli

Khudori Aliandu • Senin, 14 Oktober 2024 | 15:05 WIB
PANEN: Petani tembakau di Kecamatan Dawarblandong memanen tembakau. Namun mereka resah karena harga di tingkat petani turun.
PANEN: Petani tembakau di Kecamatan Dawarblandong memanen tembakau. Namun mereka resah karena harga di tingkat petani turun.

KABUPATEN - Petani tembakau di kecamatan Dawarblandong harus menelan pil pahit. Sebab, di tengah panen raya harganya kian turun. Dari sebelumnya Rp 4.000 per kilogram (kg) menjadi Rp 3.500 per kg untuk daun atas. Sedangkan untuk tembakau rajang kering turun diangka Rp 45 ribu per kg.

Salah satu petani, Wijanarko, mengatakan, belakangan para petani tembakau di utara Sungai Brantas tidak bisa tersenyum lepas. Pasalnya harga tembakau di tingkat petani alami penurunan. ’’Harga tembakau daun basah turun, harga di gudang juga turun,’’ ungkapnya.

Kini, harga daun tembakau bagian atas sebesar Rp 3.500 per kg, padahal sebelumnya sempat Rp 4 ribu per kg. Pun demikian dengan harga tembakau rajang kering yang diolah petani juga berangsur turun. Dari sebelumnya Rp 50 ribu per kg, kini turun menjadi Rp 45 per kg. ’’Tembakau bross (rajang kering) ini sempat menyentuh angka Rp 50 ribu per kg. Sekarang paling super cuma Rp 47 ribu dan kebanyakan Rp 45 ribu-an per kilo,’’ sesalnya.

Menurutnya, penurunan harga tanaman berjuluk ’’Si Daun Emas’’ ini dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya turunnya hujan beberapa waktu lalu. Di sisi lain, sekarang ini juga terjadi panen raya yang berakibat melimpahnya stok. ’’Tembakau yang terkena air hujan dianggap menurunkan kualitas daun. Termasuk randemen. Nah, di perajang juga kalau barang kurang kering gudang tidak mau. Sejumlah gudang tembakau juga sangat selektif,’’ paparnya.

Penurunan harga ini tentu sangat berdampak pada petani yang baru memasuki masa panen. ’’Kalau dari petani yang telat tanam jelas kurang menguntungkan dengan harga murah. Sebab yang tanam awal kan sudah selesai panen semua,’’ tegas warga Sumberwuluh ini.

Sayangnya, tren penurunan harga di tingkat petani belakangan tidak mendapatkan atensi pemda. Pemda seakan tutup mata atas jebloknya harga di tingkat petani. Padahal, lanjutnya, luasan tanam tembakau berpengaruh pada besaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) yang diterima pemda. ’’Sejauh ini tidak ada tindakan apapun. Pemerintah sebenarnya jarang ambil kebijakan terkait harga. Konkretnya hanya terlihat dalam bentuk penyuluhan dan studi banding, dampaknya ke petani juga tidak terlalu ada,’’ jelasnya.

Terpisah, Kabid Perkebunan Dinas Petanian Kabupaten Mojokerto, Fitri Purwanti, mengatakan, pemda memang tidak bisa melakukan intervensi harga tembakau. Sebab, selama ini harganya mengikuti pasar. ’’Kalau harganya masih standar, tidak sampai jatuh. Tetapi, memang banyak pengaruhnya soal harga, kalau karena mutu mungkin kita bias. Tetapi kalau karena pasokan, itu kan menjadi hukum ekonomi,’’ ungkapnya.

Pihaknya mengakui, hujan yang terjadi beberpa pekan lau memang cukup mempengaruhi terkait harga tembakau. ’’Memang hujan kemarin memengaruhi, tetapi sekarang sudah stabil,’’ tambahnya. (ori/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#harga tembakau anjlok #petani tembakau #dawarblandong mojokerto