Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sebulan Berjalan, Wisata Kuliner Kampung Pecinan Diprotes Warga

Rizal Amrulloh • Selasa, 6 Agustus 2024 | 14:30 WIB
DENGAR PENDAPAT: Perwakilan warga dan pelaku usaha di Jalan Karyawan Baru, Kelurahan Sentanan, Kecamatan Kranggan saat mengikuti hearing bersama Komisi II DPRD Kota Mojokerto, kemarin.
DENGAR PENDAPAT: Perwakilan warga dan pelaku usaha di Jalan Karyawan Baru, Kelurahan Sentanan, Kecamatan Kranggan saat mengikuti hearing bersama Komisi II DPRD Kota Mojokerto, kemarin.

KOTA - Baru sebulan di-launching, Kampung Pecinan di Jalan Karyawan Baru, Kelurahan Sentanan, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto disoal warga.

Pasalnya, keberadaan destinasi wisata kuliner saat weekend ini dinilai menghambat akses jalan dan usaha tempat perniagaan setempat.

Keluhan itu disampaikan perwakilan warga Kelurahan Sentanan saat hearing dengan Komisi II DPRD Kota Mojokerto, Senin (5/8).

Salah satu yang disesalkan adalah tidak adanya sosialisasi terkait Kampung Pecinan yang dibuka pada 29 Juli lalu.

’’Jadi, sepertinya kita menjadi pihak yang diabaikan, ini yang paling kita sesalkan dari warga setempat,’’ ungkap Lina, salah satu perwakilan warga.

Sebagai pelaku usaha di Jalan Karyawan Baru, dirinya juga mengaku dirugikan atas kegiatan yang dilaksanakan tiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.

Pasalnya, kegiatan wisata kuliner UMKM ini menghalangi akses jalan umum dan usaha dari warga.

Karenanya, dia mempertanyakan terkait landasan dari digelarnya Kampung Pecinan di kompleks perniagaan tersebut.

’’Bukan kami minta ditutup, tetapi dikoreksi lagi. Karena lokasinya yang tidak layak,’’ tambahnya.

Keberatan juga dilontarkan Hariyanto, warga Kelurahan Sentanan lainnya. Dirinya dan belasan pelaku usaha lainnya di Jalan Karyawan Baru yang beroperasi hingga malam hari mengaku terdampak adanya Kampung Pecinan.

’’Kalau ada yang mau masuk ke Jalan Karyawan Baru di-stop. Sebagai pelaku usaha, kalau ada pembeli datang masuk saja sulit, apalagi mau beli,’’ sambungnya.

Di samping itu, keberadaan tenda pedagang yang dibiarkan berdiri selama tiga hari juga dinilai menghalangi usahanya. Karena itu, dirinya meminta agar dikaji ulang untuk mengurangi jadwal pelaksanaan dari kegiatan Kampung Pecinan.

’’Kalau bisa hari Minggu saja,’’ imbuh dia.

Sementara itu, Lurah Sentanan Fauzan Hadiyan Ichsan menyebutkan, selama sebulan berjalan, pihaknya menyatakan telah melakukan tahapan evaluasi yang dikeluhkan warga.

Termasuk, sebelum dibukanya Kampung Pecinan juga telah disosialisasikan kepada masyarakat melalui RT/RW.

’’Mungkin ketika sosialisasi tidak tersampaikan secara keseluruhan, itu menjadi kekurangan kami dan insyaallah ke depan akan kami perbaiki,’’ ungkapnya.

Selanjutnya, Fauzan menyatakan akan duduk bersama untuk membuat kesepakatan bersama antara pelaku usaha dan UMKM Kampung Pecinan.

Dia menyebut, sejumlah saran dan masukan akan diakomodir yang dituangkan melalui berita acara.

’’Nanti akan ada kesepakatan bersama yang dijalankan untuk kepentingan bersama,’’ ulasnya.

Demikian terkait dengan evaluasi jadwal pelaksanaan. Fauzan menyebut juga akan ditinjau untuk dikurangi dari yang sebelumnya dibuka tiga hari mulai sore hingga malam hari.

’’Kita kan baru jalan satu bulan dan kita evaluasi. Mungkin kita akan kurangi hari untuk memberikan peluang pemilik toko untuk berjualan seperti normal,’’ pungkas dia.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kota Mojokerto Agus Wahjudi Utomo mengungkapkan, hearing digelar atas wadulan warga Kelurahan Sentanan terkait keberadaan Kampung Pecinan.

Menurutnya, baik dari kedua belah pihak yang dihadirkan telah sama-sama bersepakat untuk mencari solusi bersama.

’’Kami harapkan melalui pertemuan ini bisa muncul win-win solution. Sehingga tidak ada warga yang dirugikan,’’ pungkasnya. (ram/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#Dipersoalkan #kampung pecinan #protes #Kota Mojokerto