KABUPATEN - Pemkab Mojokerto mulai mewaspadai kenaikan harga minyak goreng di pasaran. Hal itu seiring dengan rencana perubahan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng bersubsidi atau MinyaKita yang bakal ditetapkan kementerian.
Kepala Disperindag Kabupaten Mojokerto, Iwan Abdillah mengatakan, intervensi harga di pasar sebagai langkah pengendalian inflasi tetap menjadi fokus pemerintah daerah. Tak urung selain masif melakukan operasi pasar, perluasan pembentukan rumah pangan kita (RPK) dan toko pangan kita (TPK) juga terus dilakukan bersama Bulog Cabang Surabaya Selatan.
’’Prinsipnya, pengendalian inflasi tetap jadi fokus kami. Utamanya dalam menstabilkan harga kebutuhan pokok di pasaran,’’ ungkapnya.
Baca Juga: Beberapa Idol K-Pop Disorot karena Terafilisasi Gunakan Brand Pro Israel, Terbaru Ada Kim Taehyung BTS
Tak sekadar komoditas beras dan gula, belakangan disperindag juga mulai mewaspadai kenaikan harga minyak di pasaran. Hal itu seiring dengan rencana kenaikan HET minyak goreng bersubsidi oleh pemerintah pusat. ’’Sesuai wacana yang dihembuskan kemendag, harga MinyaKita ada kenaikan sebesar Rp 1.700 per liternya,’’ tegasnya.
Sehingga, hemat Iwan, jika sebelumnya HET MinyaKita sebesar Rp 14 ribu per liter, dengan perubahan harga tersebut nantinya menjadi Rp 15.700 per liter. Kendati begitu, harga itu belum ada kepastian seiring belum adanya regulasinya. ’’Kami juga masih menunggu kepastiannya. Kami menunggu regulasinya sebagai acuan kebijakan kenaikan HET itu,’’ paparnya.
Meski ada wacana perubahan HET, Iwan meminta masyarakat tak perlu panic buying. Sebab, hingga kini pemerintah memastikan stok minyak masih aman. Baik di tingkat produsen ataupun pasar rakyat dan modern.
Bahkan, hingga kini wacana perubahan HET juga belum berpengaruh pada harag di pasaran. ’’Harga saat ini masih stabil. Tidak ada kenaikan yang signifikan. Bahkan stok juga masih melimpah. Jadi masyarakat tak usah panic buying,’’ jelas Iwan. (ori/fen)
Editor : Hendra Junaedi