KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto - Selain disebabkan peralihan daya beli masyarakat ke lapak online, kondisi gedung Pusat Grosir Sepatu (PGS) Kota Mojokerto juga dinilai tak menarik.
Pemkot Mojokerto sepertinya harus berupaya lebih keras untuk menggenjot agar minat masyarakat datang ke PGS yang diresmikan Agustus 2023 lalu lebih meningkat.
Yuli Irawan, mantan pedagang sandal grosir PGS menyebut sejak beroperasi selama setahun terakhir ini, memang tak banyak pengunjung yang datang ke PGS.
”Sebagian besar mungkin karena penataan etalasenya dan dari gedung depan kelihatan tidak menarik, jadi sepi. Dagangan saya juga ikutan nggak laku sejak PGS berdiri,” ucap pria yang juga berjualan di Pasar Benteng Pancasila (Benpas) Kota Mojokerto tersebut, kemarin.
Hal yang sama dilontarkan Khoiron, perajin sepatu asal Lingkungan Kedungkwali, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan.
Menurutnya, pemkot butuh usaha lebih keras lagi dalam mendukung perputaran ekonomi perajin sandal dan sepatu.
Baik dari sisi marketing maupun konsep tempat berjualan. ”Benar, letaknya (PGS) strategis, tapi kan harus ada upaya pemerintah agar pemasaran lebih tepat, termasuk penataan gedung harus lebih menarik,” katanya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.
”Butuh usaha yang lebih, karena memang kondisi ekonomi perajin sandal sepatu saat ini terbilang mati suri,” imbuh dia.
Sementara itu, Kepala Diskominfo Kota Mojokerto Santi Ratnaning Tias menyatakan, diskopukmerindag baru saja menjalin kerja sama dengan Kemenparekraf untuk menjadikan PGS sebagai sasaran kajian desain arsitek dan interior. Sehingga, lanjut dia, ke depan bisa diajukan revitalisasi gedung.
"Dengan menjadikan PGS sebagai lokus desain arsitek dan desain interior, nantinya bisa diajukan revitalisasi agar PGS lebih menarik dan banyak kunjungan," imbuhnya.
Santi menambahkan, tahun ini, diskopukmperindag mendapat pendampingan anggaran dari Kemenperin. Sedianya, anggaran tersebut bakal dimanfaatkan untuk revitalisasi sentra IKM alas kaki. Output-nya menyediakan gedung dan sarana prasarana memadai.
"Sekaligus memberikan pelatihan dan pendampingan khusus perajin alas kaki untuk meningkatkan skill mereka, nilai tambah, daya saing dan kualitas alas kaki, termasuk nanti yang dipajang di PGS," jelas dia.
Selain itu, keberadaan PKL yang gulung tikar di kawasan PGS disebabkan karena pedagang memilih tak berjualan akibat kesulitan mengelola dua toko sekaligus.
”Pedagang juga kesulitan mengelola dua tempat usaha, salah satu di antaranya di Benpas,” tandasnya.
Ketua Komisi II DPRD Kota Mojokerto Agus Wahyudi Utomo menanggapi lesunya aktivitas perdagangan di PGS.
Menurutnya, keberadaan PGS tak sejalan dengan asas kebermanfataan gedung yang berada di antara Jalan Mojopahit-Jalan Raden Wijaya tersebut. ”Saat ini gedung PGS masih dibicarakan sebagai pembahasan lebih lanjut dengan pihak terkait,” kata dia.
Sebelumnya, PGS Kota Mojokerto yang menampung beragam produk alas kaki karya asli perajin Kota Onde-Onde seolah mati suri.
Tak tampak aktivitas jual beli di dalam gedung yang berada di simpang empat Jalan Mojopahit-Jalan Raden Wijaya tersebut. Pusat grosir memanfaatkan gedung eks Bentar Swalayan ini hanya menggunakan lantai 1. Sedangkan lantai dua ditutup total. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi