Terutama jenis sepatu kulit untuk pelajar sekolah atau pekerja kantoran.
Fahrul Rozi Nasution, 32, perajin sepatu tersebut, mengaku telah menggeluti usahanya selama tiga tahun.
Alasannya memilih usaha sepatu karena ingin menjaga produk lokal di tengah gempuran barang-barang impor. Dia ingin menunjukkan sepatu lokal memiliki kualitas yang sama bagusnya dengan sepatu dari luar negeri.
”Karena gak ingin home industry sepatu lokal mati akibat kalah dengan barang-barang impor,” ungkapnya saat ditemui, Kamis (7/3).
Fahrul memproduksi tiga jenis sepatu, yakni PDH, PDL, dan Safety. Ketiga jenis sepatu tersebut terbuat dari dua jenis bahan, kulit asli dan sintetis.
Jenis sepatu PDH berbahan kulit paling banyak dicari untuk kebutuhan sekolah. ”Kulitnya itu kulit sapi atau kerbau,” ujarnya.
Fahrul menceritakan rumitnya proses pembuatan sepatu. Banyak tahap yang harus dilalui dan melibatkan banyak pekerja.
Mereka bertugas purishing, menjahit, menyambung bagian sepatu, hingga pewarnaan. Pria asal Medan itu menambahkan, setiap sepatu dijual dengan harga paling murah Rp 125 ribu.
Selain melayani pembelian secara grosir di tempat produksi, ayah dua anak ini juga memasarkan produksi lewat toko online.
Penjualan lewat online antara lain dilakukan Fahrul melalui layanan live TikTok dan Shoppe.
Hingga kini, pelanggan sepatu Fahrul telah menyebar di Jawa Timur hingga paling jauh di Sumatera. (Firza Aulia Ningrum/adi)
Editor : Fendy Hermansyah