Kemarin, sebanyak 22 toko dan agen beras di tiga kecamatan telah didrop masing-masing 2,5 ton beras jenis stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) oleh Perum Bulog Cabang Surabaya Selatan.
Dropping tersebut diperkirakan akan berlaku sampai dua pekan kedepan atau menjelang masa panen dimulai, pertengahan Maret nanti.
Dalam dropping-nya, pedagang hanya dipasok beras murah tersebut maksimal sebanyak 500 sak dengan bobot masing-masing sebesar 50 kilogram (kg).
Harga yang ditawarkan ke konsumen juga tak boleh melebihi Harga eceran tertinggi (HET), yakni Rp 10.900 per kg.
Beras tersebut sebagian besar merupakan beras impor yang masih tersisa di gudang Bulog Bypass Gunung Gedangan.
’’Sudah kami komunikasikan dengan Bulog dan mulai Sabtu (24/2), sudah didrop 2 ton lebih di setiap toko, agen, dan mitra Bulog,’’ tegas Kasatreskrim Polres Mojokerto Kota, AKP Achmad Rudi Zaeny.
Dropping tersebut, dikatakan Rudi akan berjalan sampai pasokan beras medium dan premium tersedia di pasaran. Yakni sampai masa panen pertama padi di triwulan pertama tahun 2024 dimulai.
Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian, beras medium baru akan dipanen pada pertengahan Maret nanti dan berasal dari wilayah luar Mojokerto.
’’Informasinya stok beras medium bisa didrop setelah masa panen pertama berjalan pertengahan Maret nanti. Namun kebanyakan berasal dari wilayah luar Mojokerto,’’ imbuhnya.
Sebelumnya, sejumlah supermarket dan agen beras di Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto mengalami kekosongan stok beras medium sejak sepekan terakhir.
Termasuk beras dari program SPHP yang juga mulai mengalami penipisan stok.
Seperti yang terlihat di supermarket Superindo, tak satupun beras medium dan premium kemasan terlihat dijual di rak.
Petugas gabungan ini hanya menemukan beras khusus yang dijual seharga Rp 149 ribu per 5 kilogram (kg).
Sedangkan di dua toko besar di Pasar Tanjung Anyar, petugas juga hanya mendapati beras premium yang masih tersedia. Hanya saja, stoknya hanya bisa tercukupi sampai 10 hari kedepan. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah