Contoh geliat kerajinan batik di Kota Onde-onde ini tampak di salah satu toko batik yang menjual dan juga membuka kursus belajar batik di Perumahan Griya Permata Meri Blok A4 No 32 Kecamata Magersari Kota Mojokerto.
Griya batik ini kepunyaan Sudarsi, perajin setempat yang sejak lama menggeluti kerajinan khas Nusantara ini.
Pihaknya mengaku, saat ini, penjualan batik paling banyak diminati masyarakat untuk dijadikan oleh-oleh. Batik yang dipilih kebanyakan yang mempunyai ciri khas Mojokerto.
''Kalau batik sekarang banyak yang minat. Biasanya kalau ada acara lamaran atau wisuda, terkadang ada yang gak mau kalau dikasih makanan. Jadinya mereka pilih batik yang khas dari Mojerkerto. Sehingga dapat dijadikan oleh-oleh,'' terang Sudarsi.
Wanita 70 tahun ini menjelaskan, memulai usaha batiknya bermula pada 2005. Belasan tahun dirinya bergelut dengan pembuatan batik. Sampai kini, dirinya mengaku pembuatan batik memerlukan waktu dan tenaga yang memadai.
Itu dikarenakan pembuatan batik tidak bisa dikerjaan satu orang. Terkecuali untuk pembuatan batik cap yang relatif lebih cepat pembuatannya.
''Kalau batik gak bisa diprediksi bisa buat berapa, Tapi untuk cap biasanya seminggu menghasilkan 50, sedangkan untuk tulis biasanya 45,” ungkapnya.
Sudarsi menuturkan, batik khas Kota Mojokerto mempunyai ciri khas sendiri. Sehingga berbeda dengan batik yang lain baik dari provinsi dan juga kabupaten.
''Batik khas Kota Mojokerto punya paten yang beda-beda, baik dari provensi dan kabupaten. Jadi setiap pembatik itu punya paten yang sudah tertera di Disperindag. Batik saya yang sudah paten salah satunya batik Mojopahitan dan ayam bekisar,''' terang Bu Dar-sapaan akrab Sudarsi.
Pemasaran produk batik bikinan Bu Dar tidak hanya di sekitar Mojokerto saja. Bahkan, penjualan batik ini sampai luar negeri.
''Pelanggan batik yang biasanya saya kirim ke Batam, Manado, dan Medan. Ada juga pengiriman ke Thailand, Singapura, Malaysia. Biasanya harganya saya target satu bajunya kurang lebih Rp 500 ribu, karena untuk bayar ongkos kirim,'' ungkapnya.
Selain menjual batik, ibu dua anak ini biasanya menerima kursus belajar batik. Harga yang ditentukan bervariasi tergantung kain yang dibutuhkan.
''Untuk belajar batik saya tidak menarget bayar berapa. Tapi saya hanya hitung bahan-bahan dan kain yang dipilih. Kalau biasanya orang-orang belajar itu bayar Rp 175 ribu. Kalau untuk rombongan saya hitung per kepala,'' urainya
Hasil dari penjualan batik tidak dapat ditargetkan, karena tergantung dari jenis batik yang di inginkan oleh pembeli. Sehingga hasil penjualan batik tidak selalu sama.
''Kalau untuk omset, saya gak bisa memprkirakan dengan pasti. Terkadang pembeli memilih batik yang murah ada yang mahal. Tapi untuk Rp 50 juta masih bisa mencapai,'' paparnya. (Novita Ainiyyatuz Zakiyyah/fen)
Editor : Fendy Hermansyah