Kepala Pimpinan Cabang Bulog Surabaya Selatan Rusli mengatakan, stabilisasi harga beras masih menjadi agenda pemerintah seiring dengan harga beras yang kian mahal.
Bahkan, melambung di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
’’Ini menjadi program nasional. Jadi stabilisasi harga beras ini juga kita getol lakukan di Mojokerto,’’ ungkapnya.
Ditegaskan Rusli, pemerintah pun gelontorkan ribuan ton kepada masyarakat melalui bantuan cadangan pangan.
Di sisi lain, Bulog juga mengucurkan puluhan ton beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan) ke berbagai toko pangan kita (TPK) dan rumah pangan kita (RPK) yang menjadi mitranya dengan harga sesuai HET.
’’Mojokerto sendiri, 68 ton 600 kilogram beras SPHP yang kita pasok ke TPK dan RPK kita,’’ tegasnya.
Angka tersebut akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Menurutnya, TPK dan RPK itu tersebar di sejumlah kecamatan.
Baik di sejumlah pasar yang dikelola Pemkab Mojokerto atau pun distributor hingga agen swasta yang ada di desa-desa.
’’Setiap hari, ini juga akan terus bertambah. Yang pasti, tiap TPK dan RPK kita pasok maksimal 2 ton beras tiap minggunya,’’ tuturnya.
Rusli menegaskan, pasokan SPHP yang digelontor Bulog menjadi bagian dari intervensi pemerintah seiring harga beras yang kian mahal.
Sesuai pantauan di aplikasi Sinergi Smart Data Perdagangan milik disperindag, tren beras juga naik. Masing-masing Rp 14 ribu dari HET Rp 10.900 per kg untuk jenis IR 64 medium dan Rp 16 ribu dari HET Rp 13.900 per kg.
Mahalnya harga beras ini memang terjadi akibat mahalnya harga gabah di tingkat petani seiring dengan belum masuk panen raya.
’’Harga gabah saat ini kan cukup tinggi, bisa mencapai Rp 8.500 per kilonya, kalau dijadikan beras, kalau rendemennya 50 persen bisa sampai Rp 15-16 ribu untuk harga beras premiumnya. Makanya harga beras premium saat ini harganya rata-rata di atas HET,’’ jelasnya. (ori/ron)
Editor : Fendy Hermansyah