Hasilnya, komoditas bahan pokok tersebut mengalami kenaikan merata hingga di atas harga eceran tertinggi (HET).
Sidak yang dipimpin Sekdakot Mojokerto Gaguk Tri Prasetyo dilakukan di tiga titik lokasi.
Sasaran pertama di Pasar Tanjung Anyar, kemudian di swalayan di Jalan Bhayangkara, serta agen beras di Lingkungan Ketidur, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon.
Gaguk menyebutkan, dari ketiga lokasi itu komoditas beras premium kompak mengalami kenaikan harga.
’’Jadi, dari ketiga tempat tersebut memang terjadi kenaikan harga beras premium. Yang tentunya ini di atas dari pada harga eceran tertinggi (HET),’’ ungkapnya.
Berdasarkan hasil sidak, harga beras premium rata-rata berkisar antara Rp 16 ribu sampai Rp 18 ribu per kilogram (kg).
Banderol tersebut lebih tinggi dibanding HET yang dipatok Rp 13.900 per kg.
Selain harga, sidak juga dilakukan untuk mengecek ketersediaan beras. Dikatakan Gaguk, stok beras hingga saat ini masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Meskipun, di sejumlah minimarket modern ada keterlambatan distribusi sehingga pasokannya terbatas.
’’Tapi di beberapa tempat, khususnya yang di minimarket non-franchise stoknya banyak dan lebih dari cukup, tapi harganya tinggi berkisar Rp 16 ribu sampi 18 ribu rupiah per kilogramnya,’’ tandas dia.
Termasuk di tingkat agen, beras premium juga masih tersedia. Menurutnya, kenaikan harga disebabkan karena harga beras yang didapat dari daerah penghasil sudah tinggi.
Sebab, kata dia, sebab saat ini masih belum memasuki masa panen raya.
’’Termasuk yang di pasar juga masih tinggi, tentunya hal ini juga terjadi di tempat-tempat yang lain karena pasokan beras sendiri sudah mulai berkurang. Kita berharap bulan depan diprediksi mulai panen, maka bisa menjadi semakin terkendali lagi dan harganya bisa menurun,’’ papar dia.
Sebagai upaya stabilisasi harga, Pemkot Mojokerto juga telah melakukan yang mulai dilakukan mulai Kamis (15/2) dan dilanjutkan Jumat (16/2) kemarin.
Setiap hari, sebanyak dua ton beras digelontorkan di dua titik lokasi yang berbeda.
’’Kami juga akan men-support pracangan TPID terkait ketersediaan kebutuhan bahan pokok yang ada di sana. Agar stoknya tercukupi dan harganya terjangkau sebagaimana HET,’’ pungkasnya.
Sementara itu, salah satu agen beras Susiati menambahkan, melambungnya harga beras sudah berlangsung sejak Januari lalu. Bahkan, kenaikan harganya terjadi bertahap hingga mencapai tertinggi di pertengahan Februari ini.
’’Kenaikannya itu tiap kali pengiriman. Rata-rata per hari naik Rp 200 rupiah per kilogram sejak sebulanan yang lalu,’’ urainya.
Kini, beras premium jenis Bramo dibanderol dengan harga Rp 400 ribu per kemasan 25 kg. Padahal harga normal sebelumnya berada pada kisaran Rp 350 ribu per 25 kg atau setara Rp 14 ribu per kg.
Demikian dengan beras jenis IR 64 yang saat ini menyentuh Rp 370 ribu per 25 kg dari sebelumnya Rp 330 ribu per 25 kg atau Rp 13.200 per kg.
’’Karena mahal pembeli akhirnya sambat (mengeluh), kadang ke sini tapi nggak jadi beli,’’ pungkasnya. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah