Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Geliat Bisnis Tas Warga Mojokerto, Tembus hingga Pasar Sulawesi, Meraup Omzet Rp 17 Juta

Moch. Chariris • Minggu, 21 Januari 2024 | 04:14 WIB
PELUANG BISNIS: Iin Rejekiyah menunjukkan produk tas miliknya, di Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (foto: Nadya Azzahra for Radar Mojokerto)
PELUANG BISNIS: Iin Rejekiyah menunjukkan produk tas miliknya, di Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (foto: Nadya Azzahra for Radar Mojokerto)

RADARMOJOKERTO - Kerajinan bisnis tas di Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto hingga kini masih eksis. Karya warga desa yang dikenal sebagai kampung perajin tas di Mojokerto kini tetap laris di pasaran.

Bisnis yang digeluti Iin Rejekiyah, warga asli Kedungmaling salah satunya. Bersama sang suami, Mustain, ia merintis kerajinan tas, berawal dari keinginan untuk  mengembangkan bakat suaminya yang sebelumnya sudah menjadi perajin tas.

PRODUKTIF: Karyawan menjahit bagian tas, di Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (foto: Nadya Azzahra for Radar Mojokerto)
PRODUKTIF: Karyawan menjahit bagian tas, di Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (foto: Nadya Azzahra for Radar Mojokerto)

”Dulu suami sudah jadi perajin tas tapi ikut orang. Setelah menikah kita kembangkan dan buka bisnis sendiri,” terang Iin, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (20/1).

Ia merintis bisnis tas dari tahun 2001 silam, kini tetap tenar di pasaran. Saat ini, ia dibantu 13 karyawan lepas untuk memproduksi tas. Dalam satu hari, karyawan dapat memproduksi 100 hingga 300 unit tas, tergantung dari tingkat kerumitan model.

”Kalau pegawai ada bagian potong kain, pegawai untuk proses penjahitan juga untuk membantu proses pengemasan,” tambahnya.

Jenis tas yang diproduksi beragam. Misalnya, tas wanita, kerja, sekolah, hingga tas yang di pesan khusus untuk suvenir.

Bahan yang dipakai juga beraneka ragam, tas dengan kain kanvas hingga yang berbahan dasar kulit imitasi. ”Yang paling best seller itu yang berbahan dasar kulit imitasi,” ungkapnya.

Wanita 42 tahun ini menjelaskan, mempromosikan tas produksinya melalui sosial media dan toko di rumah. Namun, seiring perkembangan zaman banyak pelanggan yang beralih dari toko offline ke online.

”Karena sekarang banyak yang beralih ke toko online, jadi pelanggan yang datang membeli di toko sudah hampir tidak ada,” ujarnya.

Oleh karena itu, saat ini ia hanya memproduksi tas yang sudah di pesan pelanggan. Banyak pelanggan yang memesan dalam jumlah besar.

Seperti untuk suvenir kedinasan hingga pesanan tas ransel sekolah. ”Saya sekarang hanya nerima pesanan saja, tidak punya sales. Jadi langsung dikirim,” tambahnya.

Harga yang dibanderol mulai dari Rp 35 ribu hingga Rp 150 ribu. Pesanan yang datang dari berbagai daerah, seperti Mojokerto, Surabaya, Baubau, hingga Makassar.

Tak heran, dalam satu bulan ia dapat mengantongi omzet antara Rp 10 juta hingga Rp 17 juta. ”Harga tas tergantung dari ukuran, model dan aksesori yang digunakan, disesuaikan dengan pesanan,” pungkasnya. (nadya azzahra)

 

Editor : Moch. Chariris
#tas #suvenir #omzet #kerajinan