RADARMOJOKERTO.JAWAPOS.COM – Kain perca salah satu limbah yang dianggap tidak bernilai. Melihat potensi tersebut, Nurul Abidah, warga Dusun Botok Palung, Dea Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, mampu menyulap limbah kain perca menjadi barang berharga.
Bermodal keterampilan, Nurul Abidah merintis bisnis kerajinan tersebut sejak tahun 2020 lalu. ”Banyaknya kain perca sisa dari penjahit, menginspirasi saya untuk memanfaatkan sisa potongan kain menjadi sesuatu yang bernilai,” ujar perempuan 42 tahun ini, Senin (15/1).
Belakangan Nurul tidak sendirian dalam mengelola usaha kreatifnya. Di rumah produksinya, selama ini dia dibantu orang tua dan dua karyawan. Pemanfaatan kain perca menjadi keset terbilang tidak sederhana. Sebelum dijadikan keset, limbah kain lebih dulu disortir memilih kelayakan kain dan ukuran.
Tahap berikutnya adalah proses pengolahan, menyulam hingga dijadikan dalam bentuk keset. Agar terlihat menarik, keset sengaja disulap menjadi beberapa desain. Di antaranya adalah berbentuk tokoh animasihingga motif bunga. Selain lebih kekinian, secara estetika tokoh-tokoh kartun tersebut belakangan digemari pelanggan dan ibu rumah tangga.
Untuk setiap keset Nurul menjualnya dengan harga variatif. Antara Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu, tergantung tingkat kerumitan proses pembuatan, model, dan bahan. Kesuksesan usaha kreatif ini dianggap berhasil setelah Nurul mampu meraup omzet yang terbilang lumayan. ”Usaha ini masih dilakukakan secara manual. Sehingga, mampu memperoleh omzet Rp 2 hingga Rp 3 juta dalam sebulan,” imbuhnya.
Nurul dapat melayani pesanan pelanggan melalui pemesanan di tempat produksi dan memanfaatkan sosial media. Tak jarang, produk usahanya mampu menjangkau pelanggan dari berbagai daerah. Seperti, Mojokerto Raya, Jombang, dan Malang. ”Ya, harus bersabar. Awal merintis usaha pasti peminatnya sedikit. Alhamdulillah, saat ini produk saya mulai diminati pelanggan dari beragam daerah,” tandas Nurul Abidah.
Namun, usaha kerajinan kain perca tersebut hampir mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya, kesulitan bahan limbah kain perca, hingga, pemasaran yang kurang maksimal. ”Salah satu kendala menjalankan usaha kreatif itu kesulitan mencari bahan produksi dan pemasaran,” tuturnya. (annisa nur fadilah)
Editor : Moch. Chariris