RADARMOJOKERTO.JAWAPOS.COM – Daur ulang sampah anorganik masih menjadi persolan bagi bagi masyarakat. Seperti halnya sampah ban bekas tak layak pakai. Sebab, penguraian secara alami akan memerlukan waktu yang sangat lama. Banyaknya ban bekas tak terpakai berpotensi memberikan dampak buruk bagi ekosistem dan lingkungan sekitar.
Melihat potensi itu, Saman, warga Dawarblandog, Kabupaten Mojokerto, mampu menyulap limbah ban menjadi barang bernilai jual. Belajar dari pengalaman bekerja dan berbisnis bersama kakaknya, dengan mengandalkan kreativitas dan pengalaman, kini dia mampu mendirikan usaha kreatif itu sejak 35 tahun silam.
Saman mampu menyulap ban bekas truk dan mobil menjadi produk bernilai rupiah. Seperti tong sampah, pot bunga, karpet bak mobil pikap, hingga polisi tidur. ”Kami mampu mengolah dua ban menjadi delapan tong sampah siap cat,” tutur pria 74 tahun ini, di lapak penjualan produknya, di sekitar Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, Sabtu (16/12)
Kesuksesan usahanya ini setelah Saman mampu mendidik karyawan sebagai mitra bisnisnya. Tak jarang, Saman memenuhi kebutuhan mitra bisnis ketika kebanjiran pesanan. Dalam dua minggu, produksinya mampu menghabiskan 30 ban bekas. Dari bahan-bahan tersebut, Saman mampu memenuhi kebutuhan mitra dan para pelanggan. ”Kalau mitra bisnis kebanjiran pesanan, biasanya ambil bahan mentah di toko saya,” ujarnya.
Bahan yang didapat melalui beberapa tahapan. Seperti, penyortiran, pemotongan, hingga pengecatan. Dari situ dia mampu mendistribusikan produknya ke beberapa pasar. Melliputi, pelanggan di kalangan pemerintahan, lembaga, perusahaan swasta, hingga pasar rumah tangga.
Dia mengaku dalam menjalankan keterampilan kerajinan ban ini, dibutuhkan pengalaman selama sepuluh tahun lamanya. ”Keterampilan memotong ban hingga menguliti harus berhati-hati. Jika salah teknik maka berpengaruh terhadap kualitas produk,” kata Saman.
Selama ini, dia memproduksi usaha kreatifnya dengan dibantu seorang karyawan, Heri, 57, pria asal Kota Malang. Namun, belakangan seiring turunnya pesanan, Heri hanya kerja tiga kali dalam sepekan. ”Akhir-akhir ini penjualan menurun, dikarenakan persaingan dagang, sehingga penghasilan setiap hari tak menentu,” ujar Heri
Omzet yang diraih Saman sejauh ini masih menggantungkan order dari konsumen. Kerajinan tong sampah berukuran besar dijual Rp 100 ribuan, tergantung model. Sedangkan ukuran sedang dibanderol Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu. ”Untuk request konsumen, biasanya hanya motif cat lukisan saja,” tambah Heri. (moch. khasib)
Editor : Moch. Chariris