Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto Nurul Istiqomah mengatakan, tahun ini produktivitas pertanian tembakau menunjukkan peningkatan. Hal itu berbanding lurus dengan luasan tanam yang dilakukan para petani. ’’Tahun ini luasan tanam tembakau jauh lebih tinggi dua kali lipat lebih,’’ ungkapnya.
Sesuai data, tahun ini luasan tanam capai 445 hektare yang terbagi di tiga kecamatan. Rinciannya, 30 hektare di Kecamatan Jetis, 100 hektare di Kecamatan Kemlagi, dan 315 hektare di Kecamatan Kemlagi.
Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Yakni dari potensi luas lahan 430 hektare, petani hanya memanfaatkan lahan 161 hektare.
’’Artinya, ada peningkatan luas tanam sebesar 284 hektare. Penambahan tanam ini paling besar ada di Kecamatan Dawarblandong, dari semula 113 hektare menjadi 315 hektare,’’ bebernya.
Lalu di Kecamatan Kemlagi dari 40 hektare menjadi 100 hektare dan wilayah Jetis dari 8 hektare menjadi 30 hektare. ’’Luas tanam ini terus kita pertahankan, dan akan kita maksimalkan,’’ ujarnya.
Nurul menegaskan, dengan peningkatan luas lahan ini secara otomatis akan meningkatkan produktivitas tembakau. Jika tahun lalu produktivitasnya mencapai 1.798 ton produksi daun basah, tahun ini bisa naik dua kali lipat.
’’Itu dengan rata-rata produktivitas per hektarenya di kisaran 1 ton lebih. Jadi tinggal kalikan saja,’’ tandasnya.
Nurul menegaskan, kian meluasnya tanam tembakau tahun ini memang menjadi semangat para petani di tengah harga jualnya juga kian melambung.
Jika tahun lalu di angka Rp 3500 per kilogram (kg) daun basah, kini tembus Rp 5000 per kg daun basah. Peningkatan luas tanam ini sekaligus menjadi bukti keberhasilan pelatihan yang getol dilakukan dalam peningkatan kapasitas melalui DBHCHT yang digelontorkan selama ini.
’’Dan sekali tanam petani bisa tiga sampai empat kali panen. Harga daun basah saat ini juga naik sekitar Rp 5 ribu per kilo, jadi petani tembakau semakin semringah, dan semoga cuaca juga mendukung,’’ paparnya.
Sebelumnya, disperta menggelar pelatihan terhadap ratusan petani tembakau di Kabupaten Mojokerto, Rabu (12/7) dilanjut studi banding ke Kabupaten Lamongan pada hari berikutnya.
Menggunakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), kegiatan ini untuk meningkatkan kualitas bahan baku rokok yang menjadi salah satu penyumbang terbesar pemasukan negara. (ori/ron)
Editor : Fendy Hermansyah