Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Harga Telur Naik, Pedagang di Kota Mojokerto Pilih Hentikan Jualan

Fendy Hermansyah • Sabtu, 27 Mei 2023 | 16:45 WIB
MERUGI: Agus Sugianto memilah telur yang ia jual ke konsumen di Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto, kemarin. (Farisma Romawan/JPRM)
MERUGI: Agus Sugianto memilah telur yang ia jual ke konsumen di Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto, kemarin. (Farisma Romawan/JPRM)
Imbas Kenaikan Harga Telur

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Meroketnya harga telur ayam tak sekadar merugikan para konsumen. Para pedagang di pasar juga turut merasakan sepinya penjualan sejak sepekan terakhir. Bahkan, sejumlah pedagang memutuskan untuk menghentikan berjualan telur ayam agar terhindar dari kerugian berlipat.

Seperti yang dilakukan Agus Sugianto. Pedagang telur di Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto yang sudah meliburkan penjualan telur ayam dalam negeri sejak sepekan terakhir. Kenaikan harga telur yang mencapai Rp 32 ribu per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp 30 ribu per kg membuat Agus kesulitan menjual ke konsumen. Akibatnya, omzet penjualan pria 37 tahun ini sempat turun hingga 40 persen.

’’Kalau harganya ikut dinaikkan, malah kami rugi. Karena pembelinya malah nggak ada. Lebih baik sementara berhenti dulu,’’ ujarnya. Tak hanya telur ayam buras, Agus juga tidak berani menjual dan menaikkan harga telur puyuh yang sekarang mencapai Rp 41 ribu per kg. Padahal, sebelum Lebaran lalu, harga telur puyuh masih berkisar Rp 38 ribu per kg.

Pedagang lain, Maisaroh memiliki fokus berjualan jenis telur lain yang juga mengalami peningkatan harga namun tidak terlalu signifikan. Seperti telur ayam kampung atau telur bebek yang mengalami peningkatan hingga Rp 500 per butir. ’’Kalau telur horen sulit jualnya. Lebih baik jual telur ayam kampung dan telur bebek yang masih diminati untuk jamu dan obat kesehatan,’’ terangnya.

Sementara itu, keluhan akan kenaikan harga telur pasca Lebaran lalu terus mencuat di kalangan konsumen. Khususnya bagi pengusaha katering yang merasa keuntungannya berkurang. Mereka juga tidak berani menaikkan harga jual kue produksinya demi menjaga konsumen agar tidak lari. ’’Telur mahal, minyak juga langka. Akhirnya kami sulit cari bahan baku. Pelanggan juga tidak mau harga jual kue naik,’’ pungkas pedagang donat, Rodiah. (far/ron)
Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #pedagang telur #Pemkot Mojokerto #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #trawas #pacet #kerajaan majapahit #harga naik #harga telur #Kota Mojokerto #mojokerto #soekarno #pasar kota mojokerto #trowulan #onde-onde