KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto - Operasi pasar yang digeber Pemkot Mojokerto belum mampu menstabilkan harga kebutuhan pokok. Terbukti masih mahalnya harga di pasaran. Bahkan, untuk komoditas beras masih dijual di atas harga eceran tertinggi (HET).
Hal itu terungkap saat sidak harga dan ketersediaan beras yang dilakukan Disperindag Provinsi Jawa Timur di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, kemarin (2/2). ’’Kita sudah mendatangi toko dan agen beras yang ada di Pasar Tanjung Anyar. Ternyata memang ada kenaikan,’’ ungkap Analis Kebijakan Ahli Utama Spesialisasai Perindustrian dan Perdagangan, Drajat Irawan.
Dari pemantauan di sejumlah pedagang dan agen beras di Kota Onde-Onde, harga beras tergolong mahal. Lantaran, dibanderol di atas HET yang ditetapkan pemerintah. ’’Tadi ada yang dijual Rp 11 ribu per kilogramnya, padahal harga eceran tertinggi-nya Rp 9.450 per kilogramnya,’’ tegasnya.
Sejumlah faktor jadi pemicu naiknya harga beras. Selain belum masuk masa panen raya, belakangan juga terjadi cuaca ekstrem. Sehingga pasokan beras tidak maksimal karena hasil panen petani juga rusak. Tak urung, sebagai upaya pengendalian, pemerintah gencar lakukan operasi pasar.
Sejumlah komoditas yang dijual murah ini diharapkan bisa menekan laju inflasi pada kebutuhan pokok. Sekaligus bisa membantu masyarakat mendapatkan beras medium maupun premium dengan mudah dan murah. ’’Semoga bisa menekan kenaikan harga beras di pasaran. Karena operasi pasar ini kan juga bagian dari upaya menekan inflasi daerah,’’ tandasnya.
Kepala Diskopukmperindag Kota Mojokerto Ani Wijaya, mengakui memang terjadi kenaikan harga beras di pasaran. Kendati begitu, dia memastikan jika stok beras di Kota Mojokerto masih aman. Tak urung sebagai gerak cepat menstabilkan harga makanan pokok, operasi pasar pun terus digenjot. ’’Kita masifkan operasi pasar murah, seminggu tiga kali. Selain menjual beras, kita juga menjual gula, telur, minyak goreng, bawang merah, bawang putih dan ayam potong,’’ ungkapnya.
Salah satu agen beras di Pasar Tanjung Anyar, Ita, mengungkapkan, kenaikan harga beras sudah berlangsung lama. Faktor utama tak lain karena menipisnya stok akibat masih belum musim panen raya. Tak heran, jika hingga kini harga kebutuhan pokok ini belum bisa stabil. ’’Sejak pertengahan Desember sudah naik, dan itu berlangsung sampai hari ini. Diperkirakan Februari ini juga masih terus naik. Faktornya karena belum masuk masa panen,’’ ungkapnya.
Menurutnya, kenaikan harga beras ini terjadi di semua tingkatan. Baik IR 64 medium ataupun premium. ’’Rata-rata kenaikannya Rp 1.000 per kilogram. Dari yang awalnya beras Rp 10 ribu menjadi Rp 11 ribu per kilogram. Begitu juga dengan yang awalnya Rp 11 ribu menjadi Rp 12 ribu, dan Rp 12 ribu ke Rp 13 ribu. Karena memang stok kita terbatas,’’ jelasnya. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah