Seperti yang dialami Sabar, 56, salah seorang peternak ayam petelur di Dusun Bungkem, Desa Kwedenkembar, Kecamatan Mojoanyar. Diakuinya, lonjakan harga telur di pasaran belakangan ini turut membawa angin segar bagi para peternak. Pasalnya, harga telur dari kandang turut terkerek naik.
"Sekarang di tingkat peternak Rp 27.500 per kilogram," ungkapnya. Dikatakannya, harga telur dari kandang merangkak naik sejak tiga pekan terakhir. Yang sebelumnya, dibanderol sekitar Rp 25 ribu per kilogram. Praktis, kenaikan harga telur di pengujung tahun tersebut jadi berkah tersendiri bagi para peternak. "Alhamdulillah, harga sekian, bagi peternak seperti kita ini, masih dapat untung (dari keperluan produksi)," sebutnya.
Sabar menyebut, meroketnya harga telur dibarengi dengan stabilnya harga konsentrat pakan ayam kemasan 50 kg. Yakni dikisaran Rp 375 ribu. Alhasil, hasil panen dan harga jual telur pun mengalami tren positif. "Alhamdulillah harga pakan tidak ikut naik. Sudah tiga bulan ini harganya stabil. Mungkin beda lagi kalau harga pakan ikut naik," terangnya.
Tak sampai di situ, menjelang nataru kali ini, permintaan telur dari kandang pun melonjak hingga berkali-kali lipat. Produksi telur yang mencapai 40 kilogram per hari dari 800 ekor ayam miliknya itu pun mesti ludes terjual. Bahkan, ia kerap menolak sejumlah tengkulak yang datang ke kandang lantaran tak bisa memenuhi permintaan telur. "Akhir-akhir ini tambah kuwalahan, permintaan banyak. Sering juga nolak tengkulak-tengkulak yang ke sini. Ya nggak sanggup (penuhi permintaan pasar). 40 kg itu aja mesti habis dibeli warga sekitar sini, sebagian juga saya kirim ke langganan," bebernya.
Sabar menerangkan, kenaikan harga telur dari kandang ini kerap terjadi pada momen pengujung tahun. Disinyalir, fenomena meroketnya harga salah satu bahan pokok ini karena tingginya permintaan menjelang nataru. "Kemungkinan karena momen nataru ini ya. Soalnya hampir setiap tahun seperti ini. Tapi, biasanya setelah ganti tahun harganya langsung anjlok," urai pria yang sudah 5 tahun beternak ayam petelur itu.
Pihaknya berharap, tren positif bagi peternak ayam petelur ini bisa bertahan. Sehingga bisa terus mendongkrak perekonomian para peternak. "Harapannya supaya harga telur dari kandang ini (stabil) bagus terus seperti ini. Karena tadi, biasanya harga ini naik turun," pungkas Sabar.
Per hari ini (13/12), melalui laman siskaperbapo.jatimprov.go.id, harga telur di pasaran relatif stabil di kisaran Rp 28 - 30 ribu per kilogram. Harga tersebut berlaku di Pasar Pohjejer, Kedung Maling, Gempol Kerep, dan Pasar Raya Mojosari.
Sedangkan di Kota Mojokerto, telur ayam justru turun harga. Di Pasar Tanjung Anyar, harga telur menjadi Rp 30 ribu dari hari sebelumnya yang dibanderol Rp 31 ribu per kilogram. Sementara di Pasat Prajuritkulon harga telur relatif stabil di angka Rp 29 ribu per kilogram. (vad) Editor : Fendy Hermansyah