Seperti yang dilakoni Adjie Pradana. Pria 23 tahun ini mengaku sudah hampir delapan tahun menjadi pemburu sepatu bekas impor atau yang kerapa dijuluki second thrift. Awalnya, ia mengaku mulai berburu sepatu bekas impor ini lantaran ingin tampil keren dengan memakai sepatu bermerek. ’’Dulu pas jaman SMA, cuma buat pamer saja awalnya. Maklum, sedang gengsi-gengsinya juga,’’ ulasnya.
Adjie, sapaan akrabnya, menuturkan, sepatu second thrift bisa menjadi jalan tengah saat ingin tampil kece di hadapan teman-teman. Sebab, saat itu untuk membeli sepatu bermerek, harganya sangat mahal. ’’Kita kan nggak punya uang, tapi bisa diakali dengan sepatu thrift itu,’’ beber karyawan salah satu pabrik pupuk di Kecamatan Mojosari itu.
Bahkan, dulu ia bisa memiliki koleksi sepatu thrift sampai 40 pasang. Dia mengaku, satu pasang sepatu yang ia beli, biasanya hanya digunakan dua-tiga kali saja. Kemudian, sepatu yang telah dibelinya itu dijual kembali. ’’Biasanya saya berburu sepatu thrift tidak hanya di Mojokerto, tapi sampai Surabaya. Karena hanya untuk pamer, jadi pakainya sebentar. Nggak sampai lima kali pemakaian, sudah dijual lagi,’’ ungkap Adjie.
Defy Friman Al Hakim, juga merupakan salah satu penyuka produk sepatu bekas impor. Perburuannya untuk beragam jenis sepatu second thrift hingga kini masih terus berlangsung. Bahkan tak jarang, Defy, panggilan akrabnya, meluangkan waktu ke luar kota untuk mencari sepatu bekas impor. ’’Dulu karena penasaran aja, bisa nggak dapetin yang bermerek tapi dengan bujet hemat. Sekalinya dapat, malah keterusan jadi kolektor sekarang,’’ imbuh warga Kelurahan Wates, kecamatan Magersari ini.
Berburu sepatu bekas impor, lanjutnya, terasa seperti mendapatkan ketiban rejeki. Sebab, tidak semua sepatu bekas impor dalam kondisi bagus dan terawat. ’’Dapat yang bermerek, masih bagus dan harganya murah, itu berasa kayak dapat jackpot,’’ ucap Defy.
Dikatakannya, dengan sepatu bekas impor, ia bisa menghemat pengeluaran biaya. Defy menuturkan, ia kerapkali mendapati harga asli sepatu tersebut hingga jutaan rupiah. Namun, saat dijual di toko second thrift, sepatu dengan merek yang sama hanya dijual kisaran ratusan ribu. ’’Pernah ada yang harganya original Rp 13 juta. Saat saya cari di second thrift, harganya cuma Rp 100 ribu,’’ sebutnya.
Kini, Defy masih terus melanjutkan hobinya mengoleksi sepatu bekas impor. Selama empat tahun mencari sepatu thrift, Defy mengaku bisa mengumpulkan hingga 35 sepatu merek ternama yang berbeda-beda. ’’Kalau untuk perawatannya sama aja kayak sepatu biasanya. Tinggal kita aja yang jaga kebersihannya,’’ pungkas dia. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah