Pemilik kerajinan itu adalah Hariono warga Desa Bandarasri, Kecamatan Ngoro. Ia menceritakan, bisnis itu telah mulai pada 2000 an lalu. Ia menjual produknya dari rumah yang kebetulan berada tepi jalan dan hingga saat ini bisa memasarkan hingga ke pelosok tanah air melalui online dan penjualan langsung. ’’Untuk awalnya jual melalui perantau atau pengepul. Kini juga mulai pemasaran online,’’ katanya.
Hariono yang juga seorang pengajar ini sudah 18 tahun menekuni pekerjaan di rumah produksinya bernama Galeri Hariono. Dia menceritakan, ide membuat replika tersebut dari coba-coba dan kemudian menarik minat membeli. ’’Saya coba-coba saja, bikin untuk Idul Fitri yang cocok untuk rumah. Ini laku apa tidak? Saat selesai, saya gantung di depan rumah dan dalam tempo seminggu hari, ternyata permintaan banyak,’’ ucapnya sambil tertawa.
Setelah banjir pesanan, Hariono pun tak hanya membuat bunga dan buah. Namun juga pernak-pernik Lebaran lainnya. Seperti pot bunga. Semua dikerjakan sendiri. ’’Iya saya kerjakan sendiri. Mulai dari membuatnya sampai mengecat. Kalau pesanan banyak dibantu keluarga saya,’’ imbuhnya.
Menurut Hariono, untuk pembuatan replika sangat mudah dan cepat. Dalam sehari, ia mengaku bisa menyelesaikan 40 replika. Untuk kisaran harga, tergantung dari ukuran. Hariono mengaku, biasanya pesanan baling banyak itu selama Ramadan. Ada mal, bank, bandara, hingga perhotelan.
’’Biasanya mereka komplet belinya tidak hanya bunga saja. Kalau replika buah itu ukuran paling kecil itu bisa Rp 7 ribu dan rangkaian buah dan bunga bisa sampai Rp 250 ribu hingga 350 ribu itu paling kecil. Kalau yang sedang dan besar beda lagi harganya,’’ pungkasnya. (bas/ron)
Editor : Fendy Hermansyah