Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sentra Cincin Monel di Desa Pekuwon, Bangsal, Diminati Pasar Luar Negeri

Fendy Hermansyah • Sabtu, 15 Oktober 2022 | 12:05 WIB
ISTIMEWA: Monel buatan perajin asal Pekuwon, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, diburu pecinta dan kolektor akik. (Khudori Aliandu/Jawa Pos Radar Mojokerto)
ISTIMEWA: Monel buatan perajin asal Pekuwon, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, diburu pecinta dan kolektor akik. (Khudori Aliandu/Jawa Pos Radar Mojokerto)
DESA Pekuwon, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto menjadi satu-satunya setral kerajinan ring cincin untuk batu akik berbahan monel. Kerajinan yang eksis sejak 1980 silam ini pun banyak digandrungi pecinta akik dan kolektor dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan para turis mancanegara.

Tergabung dalam Monel Handmade Mojokerto (MHM), terdapat sepuluh perajin yang tetap eksis. Mereka yang masuk generasi kedua ini tetap mempertahankan pembuatan secara manual. Keterampilan membuat cincin ini dibawa keturunan Tionghoa asal Probolinggo yang menikah di kampung ini.

Sekitar tahun 1980, pendatang itu mulai menularkan ilmunya. ’’Jadi, selama puluhan tahun berjalan, kerajinan monel ini masih tetap eksis karena sudah menjadi mata pencaharian. Dan alhamdulillah, hasil karya tangan kami juga bersaing hingga luar negeri,’’ ungkap Heru Sisnoto, 51, salah satu perajin.

Kali pertama, dia belajar dari Kasmo pada 1990. Hingga akhirnya, pada 1996, dia mengaku buka usaha sendiri di rumah dengan memanfaatkan monel. Awalnya, para perajin monel ini fokus pada ring cincin untuk batu akik. Namun, kian ke sini, produk buatannya semakin beragam sesuai pesanan konsumen. Mulai, bros, liontin, gesper, hingga vandel dengan ukuran jumbo. ’’Harganya beragam, paling murah Rp 125 ribu untuk emban monel biasa, dan paling mahal Rp 300 ribu untuk yang karakter. Ada juga yang model mahkota Rp 127 ribu,’’ bebernya.

Photo
Photo
ISTIMEWA: Monel buatan perajin asal Pekuwon, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, diburu pecinta dan kolektor akik.

Suami Lilik suhartatik, 46 ini menyebut, motif ukiran sesuai keinginan pemesan. Seperti motif bunga, binatang, karakter atau tokoh terkenal dan simbol-simbol Majapahit. Sebaliknya, lanjut bapak anak dua ini, untuk gesper dibanderol Rp 450-500 ribu. Harga menyesuaikan ukuran. ’’Pokoknya konsumen bisa request suka-suka. Kualitas dan kepuasan tetap yang utama,’’ tuturnya.

Tak heran, produk buatan perajin asal Pekuwon, Kecamatan Bangsal pun bisa bertahan eksis hingga 42 tahun. Bahkan, pesanan yang terus mengalir, tak sedikit yang datang dari pecinta akik dari mancanegara. Seperti Taiwan dan Singapura. Hanya saja, tragedi bom Bali pada 2002 membuat pemasarannya ke para turis terhenti.

Hingga akhirnya pesanan cincin monel kembali membeludak pada 2014 saat lagi boomingnya batu akik. ’’Dulu sebelum ada pasar online, kami kirim ke pengepul besar di Kayoon, Surabaya. Saat akik lagi booming 2014, kami juga tak sampai punya stok. Pemesan harus antre tiga bulan,’’ katanya.

Namun, saat popularitas akik surut, Heru bersama perajin lainnya tetap eksis. Memanfaat media sosial, orderan tetap mengalir dari berbagai daerah. Mulai Sidoarjo, Surabaya, Pacitan, Jakarta, Sumedang-Jabar, Kalimantan Tengah, Bali, Jambi, sampai Papua. Termasuk, Mojokerto sendiri. ’’Pokoknya, setiap hari ada saja pesanan. Bisa perorangan bisa penjual akik. Tapi tidak seramai dulu, sekarang sehari dua sampai tiga cincin. Kalau sebulan tinggal dikalikan saja,’’ bebernya.

Photo
Photo
ISTIMEWA: Monel buatan perajin asal Pekuwon, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, diburu pecinta dan kolektor akik.

Perajin lainnya, Sugeng Santoso, 50 mengaku, memperoleh bahan baku monel dari para pengepul rongsokan di Mojokerto seharga Rp 30-45 ribu per kilogram. Setiap kali pembelian, para perajin menggunakan magnet untuk memastikan monel tidak mengandung besi. Sehingga bahan yang ia gunakan benar-benar anti karat. ’’Jadi bahan monel emban batu akik ini kami pastikan tidak bisa berkarat. Satu kilogram lempengan monel bisa menjadi 20-25 cincin, tergantung ukuran cincinnya. Kalau ring kecil butuh bahan 2,5 x 6 cm, kalau besar 3 x 6,5 cm,’’ ungkapnya.

Sugeng menjelaskan, setiap cincin akik terdiri dari 4 monel dengan ketebalan berbeda. Mulai dari 0,2 mm, 0,8 mm, 1 mm, sampai 2 mm. Pada tahap awal, ia lebih dulu membuat tempat batu akik. Bantalan akik ia buat dua lapis lengkap dengan pelipit atau pengunci batu. Tahap selanjutnya membuat ring.

Lempengan monel dia potong dan dibuat melingkar sesuai ukuran jari pemesan. Selanjutnya, ring dan tempat batu disatukan menggunakan solder. Dalam proses ini, timah diberi air keras yang sudah dinetralkan. Fungsinya agar timah langsung meresap sehingga sambungan lebih kuat. (ori/ron)

Editor : Fendy Hermansyah
#Perajin #monel #kerajinan #kriya