Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kopi Luwak tanpa Luwak Eksperimen selama Empat Tahun untuk Temukan Cita Rasa

Fendy Hermansyah • Sabtu, 1 Oktober 2022 | 15:26 WIB
NIKMAT: Kopi olahan Teguh Judiarto asal Dusun Unggahan, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, tembus pasar Australia.
NIKMAT: Kopi olahan Teguh Judiarto asal Dusun Unggahan, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, tembus pasar Australia.
BAGI penikmat kopi, rasanya kurang lengkap jika tak mampir dan menyeruput seduhan kopi di Ngopa Ngopi olahan Teguh Judiarto. Selain aman di lambung, cita rasa dari segala jenis kopi yang dibuatnya bisa seperti kopi luwak. Padahal, proses pembuatannya tak memakai hewan luwak.

’’Yang membedakan dengan kopi yang lain, kopi buatan saya ini aman di lambung,’’ ungkap pria kelahiran 1968 ini memulai perbincangan dengan Jawa Pos Radar Mojokerto. Benar saja, sejak 2017 menggeluti dunia kopi, puluhan hingga ratusan kilogram (kg) olahan kopinya diburu pecintanya dari berbagai kota besar. Seperti Surabaya, Jakarta, bahkan mancanegara. ’’Terjauh sempat terjual ke Australia,’’ tandasnya.

Sekilas, rumah sekaligus tempat me-roasting kopinya di Dusun Unggahan, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto tak terlihat seperti kedai kopi. Namun, dibalik itu, ternyata banyak tersimpan stok biji kopi yang menjadi bisnis rumahannya. Mulai biji yang masih mentah hingga bubuk kopi yang sudah siap diseduh. Baik jenis robusta atau pun arabika. ’’Yang berbeda lagi, ini (robusta atau pun arabika) kopi luwak, tapi tanpa melalui luwak. Artinya punya cita rasa yang tidak berbeda dengan kopi luwak,’’ tandasnya.

Teguh Judiarto menceritakan, setelah mempelajari cita rasa kopi luwak enak itu disebabkan oleh luwak memilih biji kopi yang sudah masak di pohon. Sehingga, selama ini dirinya selalu memilih biji kopi yang benar-benar masak pohon. Setelah itu, pengolahannya tak terlalu matang. Kebersihan biji juga jangan sampai busuk dan pecah. ’’Kopi luwak kan terkenalnya aman di lambung, dari pemilihan dan olahan itu tadi hasil buatan saya itu juga sama, aman di lambung meski tidak melalui hewan luwak,’’ tandasnya.

Untuk menemukan cita rasa yang sama, memang tak mudah. Dirinya membutuhkan waktu 4 tahun untuk melakukan eksperimen dengan menghabiskan 400 kg kopi. Dalam menjaga kualitas kopi, dirinya harus membeli ke para pengepul kopi dan petani secara langsung yang kualitasnya benar-benar bagus. Dengan sistem saling percaya, pesanannya pun selalu sesuai dengan keinginannya.

Harganya pun tak menguras kantong. Bahkan di bawah pasaran. 1 kg robusta dibanderol Rp 150 ribu. Sedangkan arabika dipatok Rp 175 ribu per kg. Sistem roasting tiap jenis kopi berbeda. Pun demikian dengan cara menyeduhnya. Jika pada umumnya kopi dan gula dicampur jadi satu, di Teguh Judiarto, ia lebih dulu menuangkan bubuk kopi, lalu air panas dengan suhu 90 derajat, dan dilanjutkan gula.

Baru diaduk-aduk. ’’Itu menjadikan rasa saat diminum, antara kopi, air, gula bisa dibedakan. Kalau dicampur dulu, bubuk kopi dengan gula ada senyawa yang terikat dengan gula ini, sehingga ada cita rasa kopi yang hilang,’’ bebernya. (ori/ron)

Editor : Fendy Hermansyah
#disperindag #penikmat kopi #kopi luwak