Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tengkulak Mainkan Harga Cabai di Kota Mojokerto

Fendy Hermansyah • Rabu, 20 Juli 2022 | 15:16 WIB
MELANDAI: Pedagang Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto menata barang dagangannya kemarin.
MELANDAI: Pedagang Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto menata barang dagangannya kemarin.
Minim Permintaan, Harga Bapok Diturunkan

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Harga sejumlah bahan pokok (bapok) di Kota Mojokerto mulai melandai. Bumbu dapur seperti cabai rawit dan cabai merah, sudah di bawah Rp 100 ribu per kilogram (kg). Tengkulak menurunkan harga seiring minimnya permintaan konsumen selepas Idul Adha.

Pantauan di Pasar Tanjung Anyar kemarin (19/7) menunjukkan hasil demikian. Ardian Firmansyah, salah seorang pedagang menyebut, penurunan harga bumbu dapur sudah berlangsung tiga sampai empat hari terakhir. ”Turunnya bareng-bareng. Sekarang sudah gak ugal-ugalan lagi,” ujarnya.

Tren penurunan ditunjukkan harga cabai rawit dari Rp 130 ribu per kg kini menjadi Rp 70 ribu per kg. Kemerosotan ini juga terpantau pada cabai merah besar yang sebelumnya Rp 130 ribu kg kini Rp 100 ribu per kg. Selain itu, harga tomat yang selama dua bulan terakhir bertengger Rp 24 ribu per kg juga sudah turun tinggal Rp 15 ribu per kg.

Kondisi demikian juga terjadi pada harga bawang merah dari Rp 70 ribu per kg menjadi Rp 50 ribu per kg. ”Kalau bawang putih termasuk stabil, (per kg) Rp 24 ribu,” imbuh pria 30 tahun tersebut.

Menurut Ardian, penurunan harga secara serentak ini tak lepas dari kondisi pasar yang dinilainya lesu. Selepas Idul Adha, permintaan bapok cenderung mengalami penurunan. Kondisi itu membuat pemasok menurunkan harganya. ”Yang mengatur harga kan dari sananya, ya tengkulak. Kalau kita sudah tangan ke sekian,” tutur pedagang asal Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar itu.

Berkurangnya permintaan konsumen dirasakan Ardian secara langsung. Semisal, jika sebelumnya dia mampu mengabiskan 5 kg cabai rawit, kini hanya bisa 4 kg. Penurunan kebutuhan itu disebutnya juga terjadi secara merata. ”Apalagi sekarang barengan anak-anak masuk sekolah lagi. Orang-orang belinya juga sedikit-sedikit,” tandasnya. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #Sekolah Soekarno Kecil #harga cabai #kota onde-onde #Mojopahit #sekolah ongko loro #Kota Mojokerto #mojokerto #tengkulak #trowulan #onde-onde