Kabid Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (Diskopukmperindag) Kota Mojokerto Ganesh P. Kresnawan mengungkapkan, ketersediaan komoditas cabai di pasar tradisional hingga saat ini masih menggantungkan pasokan dari luar daerah. ”Karena memang Kota Mojokerto bukan daerah penghasil (komoditas cabai),” terangnya, kemarin.
Karena itu, ketersediaan di pasar tradisional dipengaruhi suplai yang dipasok dari wilayah tetangga di Kota Mojokerto. Di antaranya berasal wilayah Kabupaten Mojokerto dan Malang. Beberapa hari belakangan, jumlah pengiriman cabai dari dari daerah pemasok berkurang.
Disebutkan Ganesh, selain dipengaruhi karena faktor cuaca, periode Juni ini juga telah melewati masa panen raya. Sehingga pasokan hanya mencukupi untuk stok di wilayah masing-masing. ”Akibatnya di kota agak kekurangan. Sehingga kalau stoknya menipis, dengan kebutuhan yang banyak pasti nilainya jadi naik,” terangnya.
Namun, pihaknya mengaku masih akan menelusuri faktor lainnya yang memicu naiknya harga cabai dengan menerjunkan tim satgas pangan. Sebab, hingga kemarin (7/6), harga rata-rata cabai rawit di Pasar Tradisional Tanjung Anyar masih bertahan pada Rp 90 ribu per kg. ”Apapun faktor penyebabnya, akan kita pastikan terlebih dulu,” tandasnya.
Ganesh menambahkan, dari hasil monitoring dan evaluasi dari tim satgas juga akan dijadikan dasar untuk melakukan upaya stabilisasi harga. Tak hanya komoditas cabai, pemantauan stok dan harga juga dilakukan ke beberapa jenis bahan pokok dan penting lainnya. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah