AAN Iqbal, seorang guru pondok pesantren banting setir menjadi petani. Kini dirinya sukses menghasilkan anggur berkualitas bernilai jual tinggi. Dia juga menjadi inisiator Kampung Wisata Anggur yang terletak di Jalan KH Ismail, Kecamatan Sooko.
Mulanya, pria lulusan SMA Negeri 1 Puri ini punya hobi berkebun. Segala jenis tanaman dikembangkannya. Itu dilakukannya saat waktu senggang tak ada jam mengajar. ’’Tahun 2016 mulai tertarik menanam anggur, ikut komunitas sesama pecinta tanaman anggur. Awalnya bukan untuk bisnis, tapi lebih ke kepuasan batin saja. Eh, sekarang malah jadi penghasilan utama,’’ ujarnya.
Awal menjajal menanam anggur, dirinya menemui kesulitan. Itu tak dibayangkan pria 37 tahun ini sebelumnya. Kesulitan bercocok tanam anggur terletak pada pembibitan. Hanya bibit tertentu saja yang bisa ditanam di Indonesia. Butuh waktu empat tahun bereksperimen varian anggur yang bisa ditanam di wilayah Mojokerto.
Biaya yang dikeluarkan Aan tak sedikit. ’’Untuk mendatangkan berbagai bibit itu, biasanya titip sama teman yang juga pecinta tanaman anggur. Tapi kadang juga impor sendiri. Sekali datang, harganya bisa sampai puluhan juta. Tapi kalau impor sendiri seringnya belanja di bawah Rp 10 juta,’’ ungkapnya.
Dari ratusan varian yang didatangkan dari negara, lanjut Iqbal, hanya ada puluhan jenis anggur bisa dikembangkan di Indonesia. ’’Pengalaman saya pribadi, menarik kesimpulan dari 120 varian, yang saya amati hanya 20 jenis anggur yang layak untuk dikembangkan,’’ sebutnya.
Dengan memanfaatkan lahan di belakang rumah berukuran 400 meter persegi, 20 jenis tanaman anggur tersebut pun mulai dibudidayakan. Dari puluhan jenis itu, kini tumbuh 200 batang tanaman anggur yang bertumbuh pesat. Semuanya ditanam dengan metode sistem para-para yang dikombinasikan dengan sistem teralis. Yakni penanaman dilakukan dalam pot namun diberikan penyangga berupa kawat. ’’Karena curah hujannya Indonesia tinggi, jadi saya pilih pake para-para dengan sedikit modifikasi dari sistem teralis. Ini juga jadi solusi untuk petani yang tidak punya lahan,’’ ulasnya.
Kebun anggur milik Iqbal pun berkembang. Dia menyewa lahan kosong baik di Mojokerto dan Jombang. Kini, total lahan anggurnya mencapai sekitar 1.500 meter persegi. ’’Kalau di Mojokerto total lahannya yang sewa-an 700 meter persegi. Sisanya di Jombang. Saya isi sekitar 200 tanaman juga,’’ ungkap dia.
Iqbal mengaku berkat bisnis tanaman anggur ini, dia bisa meraup omset sekitar Rp 100 sampai Rp 350 juta tiap musim panen. Itu didapat dari penjualan buah anggur, batang tanaman, dan bibir tanaman anggur. Besarnya omset itu, karena jenis anggur yang dikembangkannya jarang dijumpai di pasaran seluruh Indonesia.
Produksi batang anggur yang dihasilkan Iqbal, sudah merambah pasar luar negeri. ’’Harga bibit anggur mulai Rp 100 ribu sampai jutaan rupiah. Untuk buah, pengiriman masih di wilayah Indonesia, belum ke luar negeri. Tapi, kalau batangnya sudah sering pengiriman sampai ke Malaysia,’’ bebernya.
Tak ingin kecipratan berkah sendiri, Iqbal pun mengajak tetangga sekitarnya ikut membudidayakan anggur. Kurang lebih, setahun yang lalu dia mulai membentuk Kelompok Tani Anggur Majapahit. Modal awal bersumber dari iuran anggota yang kini telah berkembang menjadi ratusan pohon anggur. ’’Kalau di lahan yang bersama warga ini, total ada 160 pohon anggur. Sudah berbuah tahun ini,’’ terangnya.
Lahan yang dimanfaatkan untuk budidaya warga ini merupakan lahan kosong di bantaran sungai. Luasnya mencapai 180 x 6 meter. Lahan budidaya ini sudah diresmikan sebagai wisata Kampung Anggur oleh Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati beberapa bulan lalu. ’’Rencananya, setelah hari raya nanti, kalau diberi kelancaran, mulai bisa petik buah. Akan tetapi, masih perlu banyak infrastruktur yang harus dipersiapkan, biar untuk kenyamanan pengunjung. Semoga segera terealisasi,’’ tandasnya. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah