KITA sebagai manusia pada dasarnya butuh ngobrol, butuh sambung rasa. Itu kodrat kita sebagai makhluk sosial. Dulu, ngumpulnya di pos ronda, warung kopi, atau lapangan. Sekarang? Banyak yang pindah ke ruang digital. Nah, buat Generasi Z, salah satu "basecamp" digital yang lagi ngehits itu fitur API Streak di TikTok. Simpelnya, fitur ini ngasih kita "tantangan" buat kirim DM ke temen tiap hari. Tujuannya? Biar streak-nya, atau angka hari beruntunnya, terus jalan. Makin lama angkanya, makin keren rasanya seperti prestasi kecil yang bikin hubungan terasa istimewa.
Apa ini cuma tren receh yang akan hilang besok? Nggak juga. Dari kacamata Ilmu Komunikasi, ini fenomena seru yang nggak bisa dianggap sepele. Streak itu cuma angkanya, tapi di balik itu ada pola komunikasi baru yang khas anak muda: lebih cair, santai, dan penuh simbol ketimbang kata-kata. Gak perlu nulis panjang lebar. Cukup kirim video pendek, meme lucu, reaksi “Emoji”, buat nandain "gue inget lo hari ini, ya". Ini cara mereka bikin interaksi tetap hidup di tengah kesibukan yang makin padat. Fitur ini seolah ngasih alesan buat nyapa, buat ngecek-in, tanpa terkesan jaim atau kaku. Dalam teori komunikasi, ini adalah bentuk mediated relationship yang di-maintain melalui rutinitas digital sederhana.
Tapi, sebagai calon pengamat sosial politik, kita juga harus melek dan kritis. Jangan sampai ikatan kita yang manusiawi banget ini perlahan-lahan direduksi jadi sekadar soal angka dan statistik. Pernah nggak, streak-nya hampir putus karena lupa, terus kamu buru-buru kirim pesan asal-asalan cuma biar angkanya tetap utuh? Nah, itu dia bahaya latennya. Komunikasi bisa kehilangan "rasa" dan tujuannya yang sebenarnya. Hubungan yang seharusnya hangat dan autentik, bisa jadi cuma rutinitas digital yang garing dan mekanistis. Kita jadi lebih fokus pada "jaga angka" daripada "jaga perasaan".
Yang menarik, fitur kayak gini memaksa kita buat bertanya jujur pada diri sendiri: siapa yang sebenernya kita jaga lewat streak ini? Teman beneran yang emang pengin kita sapa, atau sekadar koleksi kontak yang biar keliatan populer? Streak bisa jadi alat yang keren banget buat jaga kedekatan dengan sahabat yang jauh lokasinya, tapi dia juga bisa jadi topeng buat hubungan yang sebenarnya sudah renggang dan tanpa kehangatan.
Pada akhirnya, API Streak TikTok ini cuma sebuah alat. Sebuah fitur. Bagus atau nggaknya, bermakna atau nggaknya, balik lagi ke kita yang pake. Dia bisa jadi jembatan digital yang efektif buat jaga silaturahmi di era yang serba sibuk ini. Tapi dia juga bisa jadi kandang angka yang bikin kita lupa bahwa esensi jadi makhluk sosial adalah kedalaman interaksi, bukan panjangnya deret angka di layar.
Jadi, pesannya sederhana. Gunakan fitur ini dengan sadar. Jangan biarkan streak mengendalikan cara kita berhubungan. Kadang, satu telepon 10 menit atau kopi darat di akhir pekan, nilainya jauh lebih berharga daripada streak 100 hari yang isinya cuma stiker. Sebab, menjadi manusia di era digital bukan tentang seberapa panjang streak-mu, tapi seberapa dalam kamu bisa terhubung dengan orang lain di balik layar itu. (*)
*) Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Malang di bawah bimbingan Dr. Sulismadi, M.Si. email: rijalfahrudinahmad@gmail.com
Editor : Fendy Hermansyah