JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Saat ini, fenomena wrapped selalu menjadi budaya digital yang dinantikan oleh banyak pengguna aktif media sosial atau aplikasi tertentu.
Dari musik hingga aplikasi transportasi, fitur wrapped yang memiliki fungsi sebagai perangkum aktivitas dalam aplikasi mampu memberikan cara baru yang sederhana bagi pengguna untuk melihat kembali kebiasaan mereka.
Di balik popularitas dan keseruannya, mulai muncul pertanyan besar dari warganet mengenai bagaimana upaya atau langkah perusahaan dalam mengolah data pengguna yang begitu banyak dan sangat pribadi.
Di antara ramainya pertanyaan tersebut, Gojek, sebagai salah satu aplikasi transportasi yang memiliki jumlah transaksi masif di Indonesia, menghadapi sorotan yang serupa ketika merilis fitur Gojek Wrapped.
Isu tentang privasi dan keamanan data menjadi semakin relevan dan banyak diperbincangkan, terutama ketika ratusan juta catatan perjalanan, pesanan, dan kebutuhan harian pengguna diolah menjadi sebuah rangkuman personal yang menarik untuk dibagikan di media sosial melalui fitur wrapped.
Sementara itu, Gojek Wrapped merupakan salah satu fitur tahunan milik Gojek yang digunakan untuk merangkum berbagai aktivitas pengguna selama setahun penuh.
Mulai dari jumlah perjalanan yang ditempuh setiap harinya, pesanan makanan yang paling sering dibeli, hingga kebiasaan pengguna dalam menggunakan fitur layanan tertentu.
Cara kerja fitur ini adalah dengan mengumpulkan data penggunaan dan merangkum sekaligus mengubahnya menjadi tampilan visual yang mudah dipahami.
Baca Juga: Perang Wrapped: Gojek vs Grab, Siapa Pemenang Kilas Balik Digital Tahun Ini
Meski tampil dengan visual yang terasa ringan dan menyenangkan, fitur wrapped justru sangat berkaitan erat dengan data besar yang menyimpan jejak digital pribadi para pengguna.
Karena setiap rangkuman yang terlihat sederhana tersebut sebenarnya berasal dari data yang sifatnya sangat personal.
Konteks tersebutlah yang kemudian membuat pembahasan tentang bagaimana upaya atau langkah perusahaan dalam menjaga privasi pengguna menjadi sangat penting dan ramai dipertanyakan.
Untuk menyikapi dan mengatasi hal tersebut, dalam Gojek Wrapped terdapat proses anonimitas data yang menjadi bagian sangat penting.
Yakni dengan menggunakan sistem pengolahan data yang telah dirancang untuk memastikan bahwa identitas pengguna seperti nama, nomor telepon, alamat lengkap, hingga informasi pembayaran tidak dimunculkan dalam rangkuman akhir wrapped.
Pengolahan data juga dilakukan melalui serangkaian teknik seperti penggabungan data dalam kelompok besar, penghapusan detail yang berpotensi mengidentifikasi individu, serta memisahkan data pribadi dari data analisis.
Dengan upaya tersebut, Gojek telah memastikan bahwa apa yang tampil di layar pengguna hanyalah representasi aktivitas, bukan sekumpulan informasi yang dapat membocorkan identitas personal.
Selain itu, Gojek juga memiliki cara tersendiri dalam memproses riwayat transaksi pengguna yang akan ditampilkan dalam wrapped, yakni dengan memproses riwayat transaksi pengguna melalui beberapa tahap sebelum menjadi rangkuman Gojek Wrapped.
Pertama-tama, sistem akan mulai mengumpulkan seluruh aktivitas pengguna yang tercatat sepanjang tahun, seperti jumlah perjalanan, total jarak yang ditempuh, hingga layanan yang paling sering digunakan.
Kemudian, data-data tersebut akan melalui proses penyaringan untuk memisahkan bagian yang bersifat sensitif dari bagian data yang memiliki nilai analitik dan aman untuk disebarkan ke ruang publik.
Setelah melalui penyaringan, data akan dianalisis untuk mencari pola yang dinilai relevan atau berkaitan dengan Wrapped, misalnya kategori makanan yang paling sering dipesan atau jumlah jam yang dihabiskan dalam perjalanan.
Berdasarkan artikel teknis tentang Gojek, semua pemrosesan data dalam jumlah besar tersebut dilakukan secara otomatis melalui sistem backend karena perusahaan memiliki sistem data warehouse dan pipeline otomatis yang memang dirancang untuk mengolah jutaan data transaksi tanpa proses manual.
Baca Juga: Prediksi Tren Pengguna 2026 Berdasarkan Data Wrapped 2025: Akankah Layanan GoPay Later Mendominasi?
Meski telah dipastikan keamanan dan telah menjadi kebiasaan atau tren digital yang populer dan menyenangkan, tren ini tetap menyimpan potensi resiko.
Rangkuman data yang memperlihatkan pola penggunaan yang terlalu detail seperti frekuensi perjalanan ke lokasi tertentu dan jam-jam aktif menggunakan, dapat dimanfaatkan sebagai gambaran keseharian pengguna.
Dalam beberapa kasus, data tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memetakan rutinitas target sebelum menyerangnya secara langsung.
Maka dari itu, para pengguna selalu memiliki kesempatan untuk menilai atau meninjau ulang informasi apa saja yang terdapat dalam rangkuman Gojek Wrapped sebelum mengunggahnya ke media sosial.
Pemahaman terhadap potensi informasi sensitif yang bisa terbaca dari pola aktivitas dapat memberikan kontrol dan kesadaran yang lebih besar kepada pengguna dalam mengelola identitas digital mereka.
Kehadiran fitur Gojek Wrapped menunjukkan bahwa tren digital yang terlihat menyenangkan dan sederhana tetap bisa membawa risiko tertentu.
Pemahaman pengguna terhadap cara kerja dan batasan data mereka menjadi kunci untuk menghindari potensi masalah.
FANEZA
Editor : Imron Arlado