Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengulik Fenomena Terminal Lucidity, Kejernihan Terakhir di Ujung Perjalanan Hidup Seseorang

Imron Arlado • Senin, 15 September 2025 | 03:54 WIB
Terminal Lucidity, salah satu istilah yang cukup misterius namun nyata terjadi pada beberapa pasien menjelang akhir hayatnya. Sumber foto: Google
Terminal Lucidity, salah satu istilah yang cukup misterius namun nyata terjadi pada beberapa pasien menjelang akhir hayatnya. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Dalam dunia medis, terdapat satu istilah yang cukup misterius namun nyata terjadi pada beberapa pasien menjelang akhir hayatnya, yakni Terminal Lucidity.

Fenomena ini merujuk pada keadaan di mana seorang pasien yang sebelumnya tampak kehilangan kesadaran atau kehilangan kemampuan berpikir secara tiba-tiba menunjukkan perilaku yang berbanding terbalik dengan kondisi sebelumnya.

Kata "terminal" dalam istilah ini dipilih karena fase ini seringkali terjadi pada saat mendekati akhir hayat.

Kata tersebut seakan menggambarkan pemberhentian terakhir seseorang, di mana sebelum semuanya benar-benar berakhir, ia diberi kesempatan untuk kembali menikmati kejernihan terakhir di ujung perjalanan hidupnya.

Dalam keadaan atau fase ini, pasien yang tengah mengalami terminal lucidity akan menunjukkan kejernihan pikiran, berbicara lebih jelas, bahkan mampu mengenali orang-orang terdekatnya yang sebelumnya sempat terlupakan karena kondisinya yang melemah.

Meski hanya berlangsung secara singkat, momen ini kerap kali memberi kesempatan emosional bagi keluarga untuk saling berpamitan, sehingga walau secara ilmiahnya belum jelas, dampak momen ini untuk keluarga dan tenaga medis terasa besar sekaligus berarti.

Fenomena terminal lucidity biasanya dialami oleh pasien yang mulanya mengidap penyakit yang serius seperti demensia tingkat lanjut, cedera otak, dan kondisi neurologis lain yang berpotensi pada kematian.

Dalam beberapa tahun terakhir, riset tentang terjadinya terminal lucidity mengalami peningkatan. Namun, total jumlah kasus yang sebenarnya masih belum pasti.

Hal ini dikarenakan mayoritas bukti masih berasal dari laporan kasus, survei caregiver, dan studi observasional kecil.

 

Baca Juga: Membangun Brand Lokal yang Tahan Krisis Studi Kasus UMKM Sukses 

Sehingga terjadi perbedaan metode pengumpulan data dan definisinya tidak seragam yang membuat jumlah keseluruhan kasus sulit disimpulkan dengan pasti.

Meski belum menemukan jawaban yang pasti, beberapa peneliti menemukan adanya beberapa gagasan utama mengenai fenomena ini yang tercatat berulang kali dalam literatur.

Gagasan tersebut menyebutkan bahwa fenomena terminal lucidity memiliki kaitan erat dengan lonjakan aktivitas otak, perubahan kimiawi atau hormon, ketidakterbatasan jaringan otak, dan faktor lain seperti pendarahan darah lokal serta respon imun.

Terdapat dugaan bahwa ketika seseorang mendekati akhir hayatnya, akan terjadi perubahan pola listrik otak yang membuat jalur-jalur memori yang masih tersisa menjadi aktif kembali walau hanya sementara.

Selain itu, kondisi zat-zat kimia alami dalam tubuh yang digunakan otak untuk bekerja dan hormon tubuh yang berpengaruh ke perasaan, tanaga, hingga cara otak bekerja juga akan mengalami perubahan yang sangat besar.

Contohnya seperti hormon stres yang naik-turun dengan cepat, zat pengantar pesan di otak (dopamin atau serotonin) dapat dilepas secara drastis atau justru menurun drastis.

Gagasan utama tentang fenomena ini yang paling sering diketahui orang adalah ketidakterbatasan jaringan otak.

Otak para manusia normalnya memiliki bagian yang bekerja selayaknya rem untuk menahan atau mengontrol bagian otak lainnya agar tidak secara asal menyala.

 

Baca Juga: Tren Make-Up Muslimah Kekinian: Natural, Formal, dan Kasual

 

Namun, dalam kondisi tertentu, khususnya saat menjelang akhir hidup, bagian yang bekerja selayaknya rem tersebut bisa kehilangan kontrol yang mengakibatkan bagian otak yang awalnya tertahan bisa aktif dan terlihat seperti normal lagi meski hanya sementara.

Beberapa orang juga menganggap bahwa fenomena ini merupakan salah satu bentuk kebesaran dan kasih sayang Tuhan yang Maha Esa karena sebelum hidupnya benar-benar berakhir pun, manusia diberi kesempatan untuk merasakan kebahagiaan dan kebangkitan sejenak.

Seolah-olah Tuhan ingin mempertemukan kembali kesadaran dengan rasa damai, agar perpisahan yang tak terelakkan itu bisa dijalani dengan lebih tenang, baik oleh orang yang akan pergi maupun oleh keluarga yang ditinggalkan.

FANEZA

 

Editor : Imron Arlado
#istilah medis #kejernihan terakhir #fenomena #kaitan erat #pemicu #akhir hayat #Terminal lucidity